Friday, November 11, 2016
Thursday, November 6, 2014
HIV
Human immunodeficiency virus
|
||||||
|
||||||
Spesies
|
||||||
|
International Statistical Classification of
Diseases and Related Health Problems Codes
|
|
Klasifikasi dan rujukan eksternal
|
|
B20-B24
|
|
Virus imunodifisiensi manusia bahasa Inggris: human
immunodeficiency virus; HIV ) adalah suatu virus yang dapat menyebabkan penyakit AIDS. Virus ini menyerang manusia dan
menyerang sistem kekebalan (imunitas) tubuh, sehingga tubuh menjadi lemah dalam
melawan infeksi. Tanpa pengobatan, seorang dengan HIV bisa bertahan hidup
selama 9-11 tahun setelah terinfeksi, tergantung tipenya. Dengan kata lain,
kehadiran virus ini dalam tubuh akan menyebabkan defisiensi (kekurangan) sistem
imun. Penyaluran virus HIV bisa melalui penyaluran Semen
(reproduksi), Darah, cairan vagina, dan ASI. HIV bekerja dengan membunuh
sel-sel penting yang dibutuhkan oleh manusia, salah satunya adalah Sel T pembantu, Makrofaga, Sel dendritik. Ini
menyebabkan penurunan pada angka CD4 Sel T.
Di tahun 2014, the Joint United Nation Program on
HIV/AIDS (UNAIDS) memberikan rapor merah kepada Indonesia sehubungan
penanggulangan HIV/AIDS. Pasien baru meningkat 47 persen sejak 2005. Kematian
akibat AIDS di Indonesia masih tinggi, karena hanya 8 persen Orang Dengan HIV
AIDS (ODHA) yang mendapatkan pengobatan obat antiretroviral (ARV).
Sejarah
Pada tahun 1983, Jean Claude Chermann dan Françoise
Barré-Sinoussi dari Perancis berhasil mengisolasi
HIV untuk pertama kalinya dari seorang penderita sindrom limfadenopati.[4] Pada awalnya, virus itu disebut ALV (lymphadenopathy-associated
virus)[5] Bersama dengan Luc Montagnier, mereka
membuktikan bahwa virus tersebut merupakan penyebab AIDS.[5] Pada awal tahun 1984, Robert Gallo dari Amerika Serikat juga
meneliti tentang virus penyebab AIDS yang disebut HTLV-III.[4][6] Setelah diteliti lebih lanjut, terbukti bahwa ALV dan
HTLV-III merupakan virus yang sama dan pada tahun 1986, istilah yang digunakan
untuk menyebut virus tersebut adalah HIV, atau lebih spesifik lagi disebut
HIV-1.
Tidak lama setelah
HIV-1 ditemukan, suatu subtipe baru ditemukan di Portugal dari pasien yang
berasal dari Afrika
Barat dan kemudian disebut HIV-2. Melalui kloning dan analisis
sekuens (susunan genetik), HIV-2 memiliki perbedaan sebesar 55% dari HIV-1 dan
secara antigenik berbeda. Perbedaan terbesar
lainnya antara kedua strain (galur) virus tersebut terletak pada glikoprotein
selubung. Penelitian lanjutan memperkirakan bahwa HIV-2 berasal dari SIV
(retrovirus yang menginfeksi primata)
karena adanya kemiripan sekuens dan reaksi silang antara antibodi terhadap
kedua jenis virus tersebut.
Klasifikasi
Berdasarkan susunan genetiknya, HIV-1 dibagi menjadi tiga
kelompok utama, yaitu M, N, dan O.[9] Kelompok HIV-1 M
terdiri dari 16 subtipe yang berbeda. Sementara pada kelompok N dan O belum
diketahui secara jelas jumlah subtipe virus yang tergabung di dalamnya. Namun,
kedua kelompok tersebut memiliki kekerabatan dengan SIV dari simpanse. HIV-2
memiliki 8 jenis subtipe yang diduga berasal dari Sooty mangabey yang
berbeda-beda. Apabila beberapa virus HIV dengan subtipe yang berbeda
menginfeksi satu individu yang sama, maka akan terjadi bentuk rekombinan
sirkulasi (circulating recombinant forms - CRF) (bahasa Inggris: circulating recombinant
form, CRF). Bagian dari genom beberapa subtipe HIV yang berbeda
akan bergabung dan membentuk satu genom utuh yang baru. Bentuk rekombinan yang
pertama kali ditemukan adalah rekombinan AG dari Afrika tengah dan barat,
kemudian rekombinan AGI dari Yunani dan Siprus, kemudian rekombinan AB dari Rusia dan AE dari Asia tenggara. Dari seluruh
infeksi HIV yang terjadi di dunia, sebanyak 47% kasus disebabkan oleh subtipe
C, 27% berupa CRF02_AG, 12,3% berupa subtipe B, 5.3% adalah subtipe D dan 3.2%
merupakan CRF AE, sedangkan sisanya berasal dari subtipe dan CRF lain.
Struktur dan Materi
Genetik
HIV memiliki diameter 100-150 nm dan berbentuk sferis (spherical)
hingga oval karena bentuk selubung yang menyelimuti partikel virus (virion).
Selubung virus berasal dari membran sel inang yang sebagian besar tersusun dari
lipida. Di dalam selubung terdapat bagian yang disebut protein matriks.
Bagian internal dari HIV terdiri dari dua komponen utama,
yaitu genom dan kapsid. Genom adalah materi genetik pada bagian inti virus yang
berupa dua kopi utas tunggal RNA. Sedangkan, kapsid adalah protein yang
membungkus dan melindungi genom.
Berbeda dengan sebagian besar retrovirus yang hanya
memiliki tiga gen (gag, pol, dan env), HIV memiliki enam
gen tambahan (vif, vpu, vpr, tat, ref, dan nef). Gen-gen tersebut
disandikan oleh RNA virus yang berukuran 9 kb. Kesembilan gen tersebut
dikelompokkan menjadi tiga kategori berdasarkan fungsinya, yaitu gen penyandi
protein struktural (Gag, Pol, Env), protein regulator (Tat, Rev), dan gen
aksesoris (Vpu hanya pada HIV-1, Vpx hanya pada HIV-2; Vpr, Vif, Nef).
Nama Gen dan Protein yang disandikan
|
Ukuran
|
Lokalisasi
|
Fungsi
|
Tat (trans-aktivator transkripsi)
|
86 asam amino (AA), 2 ekson, 14 kDalton
|
nukleus, nukleolus, protein awal
|
Penting untuk replikasi; Trans-aktivasi
ekspresi mRNA virus, mengatur ekspresi sitokin dan reseptor.
|
Rev (regulator ekspresi protein virus)
|
116 AA, 2 ekson, 19 kDalton
|
Penting untuk replikasi; mengatur transkripsi dan ekspresi protein Gag, Pol, Env, Vif, Vpu,
dan Vpr.
|
|
Vif (faktor infektivitas virus)
|
192 AA, 23 kDalton
|
||
Vpr (Protein R virus)
|
96-106 AA, 10-15 kDalton
|
komponen dari inti virus dan kompleks
membran
|
Mediasi replikasi di sel yang tidak
membelah
|
Vpx (Protein X virus)
|
112 AA, 12-16 kDalton
|
komponen virion
|
Berfungsi seperti Vpr
|
Vpu (Protein U virus)
|
81 AA (terfosforilasi), 9,2 & 16
kDalton
|
retikulum
endoplasma,
protein transmembran
|
Degradasi CD4; meningkatkan pelepasan HIV;
pembentukan membran protein integral; regulasi ekpresi permukaan sel terhadap
MHC I
|
Nef (Faktor Negatif)
|
206 AA, 27 kDalton
|
virion, sitoplasma, nukleus
|
Meningkatkan produksi HIV di tahap akhir;
mengatur ekspresi MHC I dan CD4[
|
Siklus Hidup
Seperti virus lain pada umumnya, HIV hanya dapat
bereplikasi dengan memanfaatkan sel inang. Siklus hidup HIV diawali dengan
penempelan partikel virus (virion) dengan reseptor pada permukaan sel inang, di
antaranya adalah CD4, CXCR5, dan CXCR5. Sel-sel yang menjadi target HIV adalah sel dendritik, sel T, dan makrofaga.
Sel-sel tersebut terdapat pada permukaan lapisan kulit dalam (mukosa) penis, vagina, dan oral yang biasanya menjadi tempat awal infeksi HIV.[13] Selain itu, HIV juga dapat langsung masuk ke aliran
darah dan masuk serta bereplikasi di noda limpa.[13]
Setelah menempel, selubung virus akan melebur (fusi)
dengan membran sel sehingga isi partikel virus akan terlepas di dalam sel.
Selanjutnya, enzim transkriptase balik yang dimiliki HIV akan mengubah genom virus yang berupa
RNA menjadi DNA. Kemudian, DNA virus akan dibawa ke inti sel manusia
sehingga dapat menyisip atau terintegrasi dengan DNA manusia. DNA virus yang
menyisip di DNA manusia disebut sebagai provirus dan dapat bertahan cukup lama
di dalam sel. Saat sel teraktivasi, enzim-enzim tertentu yang dimiliki sel
inang akan memproses provirus sama dengan DNA manusia, yaitu diubah
menjadi mRNA. Kemudian, mRNA akan dibawa keluar dari inti sel dan menjadi cetakan
untuk membuat protein dan enzim HIV. Sebagian RNA dari provirus yang merupakan
genom RNA virus. Bagian genom RNA tersebut akan dirakit dengan protein dan
enzim hingga menjadi virus utuh. Pada tahap perakitan ini, enzim
protease virus berperan penting untuk
memotong protein panjang menjadi bagian pendek yang menyusun inti virus.
Apabila HIV utuh telah matang, maka virus tersebut dapat keluar dari sel inang
dan menginfeksi sel berikutnya. Proses pengeluaran virus tersebut melalui
pertunasan (budding), di mana virus akan mendapatkan selubung dari membran permukaan sel inang.
Deteksi HIV
Umumnya, ada tiga tipe deteksi HIV, yaitu tes PCR, tes
antibodi HIV, dan tes antigen HIV. Tes reaksi berantai
polimerase (PCR) merupakan teknik
deteksi berbasis asam nukleat (DNA dan RNA) yang dapat mendeteksi keberadaan
materi genetik HIV di dalam tubuh manusia. Tes ini sering pula dikenal sebagai
tes beban virus atau tes amplifikasi asam nukleat (HIV NAAT). PCR DNA biasa
merupakan metode kualitatif yang hanya bisa mendeteksi ada atau tidaknya DNA
virus. Sedangkan, untuk deteksi RNA virus dapat dilakukan dengan metode real-time
PCR yang merupakan metode kuantitatif. Deteksi asam nukleat ini dapat
mendeteksi keberadaan HIV pada 11-16 hari sejak awal infeksi terjadi. Tes ini
biasanya digunakan untuk mendeteksi HIV pada bayi yang baru lahir, namun jarang
digunakan pada individu dewasa karena biaya tes PCR yang mahal dan tingkat
kesulitan mengelola dan menafsirkan hasil tes ini lebih tinggi bila
dibandingkan tes lainnya.
Untuk mendeteksi
HIV pada orang dewasa, lebih sering digunakan tes antibodi HIV yang murah dan akurat. Seseorang yang terinfeksi HIV
akan menghasilkan antibodi untuk melawan infeksi tersebut Tes antibodi HIV akan
mendeteksi antibodi yang terbentuk di darah, saliva (liur), dan urin. Sejak
tahun 2002, telah dikembangkan suatu penguji cepat (rapid test) untuk
mendeteksi antibodi HIV dari tetesan darah ataupun sampel liur (saliva) manusia.[ Sampel dari tubuh pasien tersebut akan
dicampur dengan larutan tertentu. Kemudian, kepingan alat uji (test strip)
dimasukkan dan apabila menunjukkan hasil positif maka akan muncul dua pita
berwarna ungu kemerahan. Tingkat akurasi dari alat uji ini mencapai 99.6%,
namun semua hasil positif harus dikonfirmasi kembali dengan ELISA Selain ELISA, tes antibodi HIV lain yang dapat digunakan
untuk pemeriksaan lanjut adalah Western blot.
Tes antigen dapat mendeteksi antigen (protein P24) pada
HIV yang memicu respon antibodi. Pada tahap awal infeksi HIV, P24 diproduksi
dalam jumlah tinggi dan dapat ditemukan dalam serum darah. Tes antibodi dan tes
antigen digunakan secara berkesinambungan untuk memberikan hasil deteksi yang
lebih akurat dan lebih awal. Tes ini jarang digunakan sendiri karena
sensitivitasnya yang rendah dan hanya bisa bekerja sebelum antibodi terhadap
HIV terbentuk.
Penularan dan Pencegahan
HIV dapat ditularkan melalui injeksi langsung ke aliran
darah, serta kontak membran mukosa atau
jaringan yang terlukan dengan cairan tubuh tertentu yang berasal dari penderita
HIV. Cairan tertentu itu meliputi darah, semen, sekresi vagina, dan ASI. Beberapa jalur penularan HIV yang telah diketahui
adalah melalui hubungan seksual, dari ibu ke anak (perinatal), penggunaan
obat-obatan intravena, transfusi dan transplantasi,
serta paparan pekerjaan.
Hubungan seksual
Menurut data WHO, pada tahun 1983-1995, sebanyak 70-80% penularan HIV
dilakukan melalui hubungan heteroseksual, sedangkan 5-10% terjadi melalui
hubungan homoseksual. Kontak seksual melalui vagina dan anal memiliki resiko
yang lebih besar untuk menularkan HIV dibandingkan dengan kontak seks secara
oral. Beberapa faktor lain yang dapat meningkatkan resiko
penularan melalui hubungan seksual adalah kehadiran penyakit menular seksual, kuantitas beban virus,
penggunaan douche. Seseorang yang menderita penyakit menular seksual lain
(contohnya: sifilis, herpes genitali, kencing nanah,
dsb.) akan lebih mudah menerima dan menularkan HIV kepada orang lain yang
berhubungan seksual dengannya. Beban virus merupakan jumlah virus aktif yang
ada di dalam tubuh. Penularah HIV tertinggi terjadi selama masa awal dan akhir
infeksi HIV karena beban virus paling tinggi pada waku tersebut. Pada rentan
waktu tersebut, beberapa orang hanya menimbulkan sedikit gejala atau bahkan
tidak sama sekali. Penggunaan douche dapat meningkatkan resiko penularan HIV
karena menghancurkan bakteri baik di sekitar vagina dan anus yang memiliki fungsi
proteksi. Selain itu, penggunaan douche setelah berhubungan seksual dapat
menekan bakteri penyebab penyakit masuk ke dalam tubuh dan mengakibatkan
infeksi.[
Pencegahan HIV melalui hubungan seksual dapat dilakukan
dengan tidak berganti-ganti pasangan dan menggunakan kondom. Cara pencegahan lainnya adalah dengan melakukan
hubungan seks tanpa menimbulkan paparan cairan tubuh. Untuk menurunkan beban
virus di dalam saluran kelamin dan darah, dapat digunakan terapi
anti-retroviral.
Ibu ke anak (transmisi
perinatal)
Penularan HIV dari ibu ke anak dapat terjadi melalui
infeksi in utero, saat proses persalinan, dan melalui pemberian ASI.
Beberapa faktor maternal dan eksternal lainnya dapat mempengaruhi transmisi HIV
ke bayi, di antaranya banyaknya virus dan sel imun pada trisemester pertama,
kelahiran prematur, dan lain-lain Penurunan sel imun (CD4+) pada ibu dan
tingginya RNA virus dapat meningkatkan resiko penularan HIV dari ibu ke anak.
Selain itu, sebuah studi pada wanita hamil di Malawi dan AS juga menyebutkan
bahwa kekurangan vitamin A dapat meningkatkan risiko infeksi HIV. Risiko
penularan perinatal dapat dilakukan dengan persalinan secara caesar, tidak
memberikan ASI, dan pemberian AZT pada masa akhir kehamilan dan setelah
kelahiran bayi. Di sebagian negara berkembang, pencegahan pemberian ASI
dari penderita HIV/AIDS kepada bayi menghadapi kesulitan karena harga susu
formula sebagai pengganti relatif mahal. Selain itu, para ibu juga harus
memiliki akses ke air bersih dan memahami cara mempersiapan susu formula yang
tepat.
Lain-lain
Cara efektif lain untuk penyebaran virus ini adalah
melalui penggunaan jarum atau alat suntik yang
terkontaminasi, terutama di negara-negara yang kesulitan dalam sterilisasi alat
kesehatan. Bagi pengguna obat intravena (dimasukkan melalui pembuluh darah), HIV
dapat dicegah dengan menggunakan jarum dan alat suntik yang bersih. Penularan
HIV melalui transplantasi dan transfusi hanya
menjadi penyebab sebagian kecil kasus HIV di dunia (3-5%). Hal ini pun dapat
dicegah dengan melakukan pemeriksaan produk darah dan transplan sebelum
didonorkan dan menghindari donor yang memiliki resiko tinggi terinfeksi HIV.
Penularan dari pasien ke petugas kesehatan yang
merawatnya juga sangat jarang terjadi (< 0.0001% dari keseluruhan kasus di
dunia). Hal ini dicegah dengan memeberikan pengajaran atau edukasi kepada
petugas kesehatan, pemakaian pakaian pelindung, sarung tangan, dan
pembuangan alat dan bahan yang telah terkontaminasi sesuai dengan prosedur. Pada tahun 2005, sempat diusulkan untuk melakukan sunat dalam rangka pencegahan HIV. Namun menurut WHO, tindakan
pencegahan tersebut masih terlalu awal untuk direkomendasikan.
Ada beberapa jalur penularan yang ditakutkan dapat
menyebarkan HIV, yaitu melalui ludah, gigitan nyamuk, dan kontak sehari-hari
(berjabat tangan, terekspos batuk dan bersin dari penderita HIV, menggunakan toilet dan alat makan bersama, berpelukan).
Namun, CDC (Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit) menyatakan bahwa
aktivitas tersebut tidak mengakibatkan penularan HIV. Beberapa aktivitas lain
yang sangat jarang menyebabkan penularan HIV adalah melalui gigitan manusia dan
beberapa tipe ciuman tertentu.
Sub-Sahara Afrika tetap merupakan daerah yang paling
parah terkena HIV di antara kaum perempuan hamil pada usia 15-24 tahun di
sejumlah negara di sana. Ini diduga disebabkan oleh banyaknya penyakit kelamin,
praktik menoreh tubuh, transfusi darah, dan
buruknya tingkat kesehatan dan gizi di sana.
Tekanan darah tinggi
Hipertensi (HTN) atau tekanan
darah tinggi, kadang-kadang disebut juga dengan hipertensi arteri,
adalah kondisi medis kronis dengan tekanan darah di arteri meningkat. Peningkatan ini
menyebabkan jantung harus bekerja lebih keras dari biasanya untuk mengedarkan
darah melalui pembuluh darah. Tekanan darah melibatkan dua pengukuran, sistolik
dan diastolik, tergantung apakah otot jantung berkontraksi (sistole) atau
berelaksasi di antara denyut (diastole). Tekanan darah normal pada saat
istirahat adalah dalam kisaran sistolik (bacaan atas) 100–140 mmHg dan
diastolik (bacaan bawah) 60–90 mmHg. Tekanan darah tinggi terjadi bila
terus-menerus berada pada 140/90 mmHg atau lebih.
Hipertensi
terbagi menjadi hipertensi primer (esensial) atau hipertensi sekunder. Sekitar 90–95% kasus
tergolong "hipertensi primer", yang berarti tekanan darah tinggi
tanpa penyebab medis yang jelas. Kondisi lain yang mempengaruhi ginjal, arteri,
jantung, atau sistem endokrin menyebabkan 5-10% kasus lainnya (hipertensi
sekunder).
Hipertensi
adalah faktor resiko utama untuk stroke, infark miokard (serangan jantung), gagal jantung, aneurisma arteri (misalnya aneurisma aorta), penyakit arteri perifer, dan penyebab penyakit ginjal kronik. Bahkan peningkatan sedang
tekanan darah arteri terkait dengan harapan
hidup
yang lebih pendek. Perubahan pola makan dan gaya hidup dapat memperbaiki
kontrol tekanan darah dan mengurangi resiko terkait komplikasi kesehatan.
Meskipun demikian, obat seringkali diperlukan pada sebagian orang bila
perubahan gaya hidup saja terbukti tidak efektif atau tidak cukup dan biasanya
obat harus diminum seumur hidup sampai dokter memutuskan tidak perlu lagi minum
obat. Seseorang yang pernah mengalami tekanan darah tinggi, pada kondisi normal
dapat saja mengalami tekanan darah kembali dan ini yang harus diwaspadai,
banyak kasus stroke terjadi pada saat seseorang lepas obat. Dan banyak orang
tidak menyangka bahwa seseorang yang biasanya mengalami tekanan
darah rendah
suatu kali dapat juga mengalami tekanan darah tinggi. Oleh karena itu
pengontrolan tekanan darah secara rutin mutlak dilakukan.
Klasifikasi
|
Klasifikasi (JNC7)
|
Tekanan sistolik
|
Tekanan diastolik
|
||
|
mmHg
|
kPa
|
|||
|
Normal
|
90–119
|
12–15,9
|
60–79
|
8,0–10,5
|
|
Prahipertensi (normal tinggi)
|
120–139
|
16,0–18,5
|
80–89
|
10,7–11,9
|
|
Hipertensi Derajat 1
|
140–159
|
18,7–21,2
|
90–99
|
12,0–13,2
|
|
Hipertensi Derajat 2
|
≥160
|
≥21,3
|
≥100
|
≥13,3
|
|
≥140
|
≥18,7
|
<90
|
<12,0
|
|
Dewasa
Pada
orang berusia 18 tahun ke atas, hipertensi didefinisikan sebagai pengukuran
tekanan darah sistolik dan/atau diastolik yang terus-menerus melebihi nilai
normal yang dapat diterima (saat ini sistolik 139 mmHg, diastolik
89 mmHg: lihat tabel — Klasifikasi (JNC7)). Bila pengukuran diperoleh dari
pemantauan ambulatori 24 jam atau pemantauan di rumah, digunakan batasan yang
lebih rendah (sistolik 135 mmHg atau diastolik 85 mmHg). Beberapa
pedoman internasional terbaru tentang hipertensi juga telah membuat kategori di
bawah kisaran hipertensi untuk menunjukkan risiko yang berkelanjutan pada
tekanan darah yang lebih tinggi dari kisaran normal. JNC7 (2003) menggunakan
istilah pra-hipertensi untuk tekanan darah dalam kisaran sistolik
120–139 mmHg dan/atau diastolik 80–89 mmHg, sedangkan Pedoman ESH-ESC
(2007) dan BHS IV (2004) menggunakan kategori optimal, normal, dan normal
tinggi untuk membagi tekanan sistolik di bawah 140 mmHg dan diastolik di
bawah 90 mmHg. Hipertensi juga digolongkan lagi sebagai berikut: JNC7
membedakan hipertensi derajat I, hipertensi derajat II, dan hipertensi sistolik
terisolasi. Hipertensi sistolik terisolasi mengacu pada peningkatan tekanan
sistolik dengan tekanan diastolik normal dan umumnya terjadi pada kelompok usia
lanjut. Pedoman ESH-ESC (2007) dan BHS IV (2004), mendefinisikan hipertensi
derajat ketiga (derajat III) untuk orang dengan tekanan darah sistolik di atas
179 mmHg atau tekanan diastolik di atas 109 mmHg. Hipertensi
tergolong “resisten” bila obat penurun tekanan darah tertentu tidak mengurangi
tekanan darah (menjadi normal) dan perlu mencoba obat yang lain.
Disamping
klasifikasi di atas, terdapat juga:
- Gestational hypertension atau
tekanan darah tinggi yang terjadi pada saat kehamilan di atas 20 minggu
dan protein pada air seni adalah negatip dan harus dilakukan pengukuran
tekanan darah dua kali dengan selang waktu lebih dari 6 jam dan keduanya
menunjukkan tekanan darah lebih besar dari 140/90.
- Orthostatic hypertension atau
postural hypertension adalah kejadian meningkatnya tekanan darah secara
tiba-tiba ketika bangun berdiri, jika tekanan sistolik meningkat lebih
dari 20mmHg dinamakan systolic orthostatic hypertension dan jika tekanan
diastolik meningkat hingga 98 mmHg atau lebih dinamakan Diastolic
orthostatic hypertension. Hal ini lebih banyak terjadi, ketika kita
tiba-tiba bangun dari tidur yang pulas, oleh karenanya pengukuran tekanan
darah sebaiknya dilakukan 15 sampai 30 menit sesudah kita bangun tidur,
tetapi belum melakukan aktivitas apa pun, kecuali misalnya buang air kecil
dan minum air putih saja.
Neonatus dan bayi
Hipertensi
pada neonatus jarang terjadi, dan hanya
terjadi pada sekitar 0,2 sampai 3% neonatus. Tekanan darah tidak diukur secara
rutin pada bayi baru lahir yang sehat. Hipertensi lebih umum terjadi pada bayi
baru lahir berisiko tinggi. Berbagai faktor, seperti usia gestasi, usia pascakonsepsi, dan berat badan lahir perlu dipertimbangkan
ketika memutuskan apakah tekanan darah termasuk normal pada neonatus.
Anak dan remaja
Hipertensi
cukup umum terjadi pada anak dan remaja (2–9% bergantung pada usia, jenis
kelamin, dan etnisitas) dan dikaitkan dengan risiko jangka panjang mengalami
kesehatan yang buruk. Rekomendasi saat ini
adalah agar anak di atas usia tiga tahun diperiksa tekanan darahnya kapanpun
mereka melakukan kunjungan atau pemeriksaan rutin. Tekanan darah tinggi baru
dipastikan setelah kunjungan berulang sebelum menyatakan seorang anak mengalami
hipertensi. Tekanan darah meningkat seiring usia pada masa kanak-kanak, dan
pada anak, hipertensi didefinisikan sebagai rerata tekanan darah sistolik dan
diastolik yang pada tiga atau lebih waktu yang berbeda, sama dengan atau lebih
tinggi dari persentil ke-95 yang sesuai untuk jenis kelamin, usia, dan tinggi
badan anak. Prahipertensi pada anak didefinisikan sebagai rerata tekanan darah
sistolik dan diastolik yang lebih besar atau sama dengan persentil ke-90, tapi
lebih kecil dari persentil ke-95. Pada remaja, diusulkan bahwa hipertensi dan
prahipertensi didiagnosis dan digolongkan dengan menggunakan kriteria dewasa.
Tanda-tanda dan gejala
Hipertensi
jarang menunjukkan gejala, dan pengenalannya biasanya melalui skrining, atau saat mencari
penanganan medis untuk masalah kesehatan yang tidak berkaitan. Beberapa orang
dengan tekanan darah tinggi melaporkan sakit
kepala
(terutama di bagian belakang kepala dan pada pagi hari), serta pusing, vertigo, tinitus (dengung atau desis di
dalam telinga), gangguan penglihatan atau pingsan.
Pada
pemeriksaan fisik, hipertensi juga dicurigai
ketika terdeteksi adanya retinopati hipertensi pada pemeriksaan fundus optik di belakang mata dengan
menggunakan oftalmoskop. Biasanya beratnya
perubahan retinopati hipertensi dibagi atas tingkat I-IV, walaupun jenis yang
lebih ringan mungkin sulit dibedakan antara satu dan lainnya. Hasil
oftalmoskopi juga dapat memberi petunjuk berapa lama seseorang telah mengalami
hipertensi.
Hipertensi sekunder
Beberapa
tanda dan gejala tambahan dapat menunjukkan hipertensi sekunder, yaitu hipertensi akibat
penyebab yang jelas seperti penyakit
ginjal
atau penyakit endokrin. Contohnya, obesitas pada
dada dan perut, intoleransi glukosa, wajah bulat seperti bulan
(moon facies),
"punuk kerbau" (buffalo hump), dan striae ungu menandakan Sindrom Cushing. Penyakit tiroid dan akromegali juga dapat menyebabkan
hipertensi dan mempunyai gejala dan tanda yang khas. Bising perut mungkin
mengindikasikan stenosis arteri renalis (penyempitan arteri yang
mengedarkan darah ke ginjal). Berkurangnya tekanan darah di kaki atau lambatnya
atau hilangnya denyut arteri femoralis mungkin menandakan koarktasio aorta (penyempitan aorta sesaat
setelah meninggalkan jantung). Hipertensi yang sangat bervariasi dengan sakit
kepala, palpitasi, pucat, dan berkeringat harus segera menimbulkan kecurigaan
ke arah feokromositoma.
Krisis hipertensi
Peningkatan
tekanan darah yang sangat tinggi (sistolik lebih atau sama dengan 180 atau
diastolik lebih atau sama dengan 110, kadang disebut hipertensi maligna atau
akselerasi) sering disebut sebagai "krisis hipertensi." Tekanan darah
di atas tingkat ini memiliki risiko yang tinggi untuk terjadinya komplikasi.
Orang dengan tekanan darah pada kisaran ini mungkin tidak memiliki gejala,
tetapi lebih cenderung melaporkan sakit kepala (22% dari kasus) dan pusing
dibandingkan dengan populasi umum. Gejala lain krisis hipertensi mencakup
berkurangnya penglihatan atau sesak napas karena gagal jantung atau rasa lesu karena gagal ginjal. Kebanyakan orang dengan
krisis hipertensi diketahui memiliki tekanan darah tinggi, tetapi pemicu
tambahan mungkin menyebabkan peningkatan secara tiba-tiba.
"Hipertensi
emergensi", sebelumnya disebut sebagai "hipertensi maligna",
terjadi saat terdapat bukti kerusakan langsung pada satu organ atau lebih
sebagai akibat meningkatnya tekanan darah. Kerusakan ini bisa mencakup ensefalopati hipertensi, disebabkan oleh
pembengkakan dan gangguan fungsi otak, dan ditandai oleh sakit kepala dan gangguan kesadaran (kebingungan atau rasa
kantuk). Papiledema retina dan perdarahan fundus serta eksudat adalah tanda lain
kerusakan organ target. Nyeri dada dapat merupakan tanda
kerusakan otot jantung (yang bisa berlanjut menjadi serangan jantung) atau kadang diseksi aorta, robeknya dinding dalam aorta. Sesak napas, batuk, dan
ekspektorasi dahak bernoda darah adalah ciri khas edema paru. Kondisi ini adalah
pembengkakan jaringan paru akibat gagal ventrikel kiri, ketidakmampuan ventrikel kiri jantung untuk memompa
cukup darah dari paru-paru ke sistem arteri. Penurunan fungsi ginjal secara
cepat (cedera ginjal akut/acute kidney injury) dan anemia hemolitik
mikroangiopati
(penghancuran sel-sel darah) juga mungkin terjadi. Pada situasi ini, harus
dilakukan penurunan tekanan darah secara cepat untuk menghentikan kerusakan
organ yang sedang terjadi. Sebaliknya, tidak ada bukti bahwa tekanan darah
perlu diturunkan secara cepat dalam keadaan hipertensi emergensi bila tidak ada
bukti kerusakan organ target. Penurunan tekanan darah yang terlalu agresif
bukan berarti tidak ada risiko. Penggunaan obat-obatan oral untuk menurunkan
tekanan darah secara bertahap selama 24 sampai 48 jam dianjurkan dalam
kedaruratan hipertensi.
Kehamilan
Hipertensi
atau tekanan darah tinggi terjadi pada sekitar 8-10% kehamilan. Kebanyakan
wanita hamil yang mengalami hipertensi memiliki kondisi hipertensi primer yang
sudah ada sebelumnya. Tekanan darah tinggi dalam kehamilan dapat merupakan
tanda awal dari pre-eklampsia, suatu kondisi serius yang
muncul setelah melewati pertengahan masa kehamilan, dan dalam beberapa minggu
setelah melahirkan. Diagnosa preeklampsia termasuk peningkatan tekanan darah
dan adanya protein di dalam urin. Preeklampsia muncul pada sekitar 5% kehamilan
dan bertanggung jawab atas sekitar 16% dari semua kematian ibu secara global.
Preeklampsia juga menyebabkan risiko kematian bayi meningkat hingga dua kali
lipat. Biasanya preeklampsia tidak menunjukkan gejala dan keadaan ini
terdeteksi pada pemeriksaan rutin. Bila terjadi preeklampsia, gejala yang
paling umum adalah sakit kepala, gangguan penglihatan (sering dalam bentuk
“kilatan cahaya”), muntah, nyeri epigastrium, dan edema (bengkak). Terkadang
preeklampsia bisa berkembang menjadi kondisi yang mengancam nyawa yang disebut eklampsia. Eklampsia adalah suatu hipertensi emergensi dan menyebabkan beberapa
komplikasi berat, seperti hilangnya penglihatan, pembengkakan otak, kejang tonik-klonik atau konvulsi, gagal ginjal, edema paru, dan koagulasi intravaskular
diseminata
(gangguan pembekuan darah).
Bayi dan anak
Gagal tumbuh, kejang, iritabilitas, kurang energi, dan kesulitan bernafas bisa dikaitkan dengan
hipertensi pada bayi baru lahir dan bayi usia muda. Pada bayi yang lebih besar
dan anak, hipertensi bisa menyebabkan sakit kepala, iritabilitas tanpa penyebab
yang jelas, lesu, gagal tumbuh, pandangan kabur, mimisan, dan kelumpuhan wajah.
Komplikasi
Diagram
menggambarkan komplikasi utama tekanan darah tinggi persisten.
Hipertensi
adalah faktor risiko yang bisa dicegah yang terpenting bagi kematian prematur
di seluruh dunia. Hipertensi meningkatkan risiko penyakit jantung iskemik strokes, penyakit periferal vaskular, dan penyakit
kardiovaskular lain, termasuk gagal
jantung, aneurisma aorta, aterosklerosis difus, dan emboli paru. Hipertensi juga merupakan
faktor risiko terjadinya gangguan kognitif, demensia, dan penyakit ginjal kronik. Komplikasi lain di
antaranya:
Penyebab
Hipertensi primer
Hipertensi
primer (esensial) adalah jenis hipertensi yang paling umum, meliputi sebanyak
90–95% dari seluruh kasus hipertensi. Dalam hampir semua masyarakat
kontemporer, tekanan darah meningkat seiring penuaan dan risiko untuk menjadi
hipertensi di kemudian hari cukup tinggi. Hipertensi diakibatkan oleh interaksi
gen yang kompleks dan faktor lingkungan. Berbagai gen yang sering ditemukan
sedikit berpengaruh pada tekanan darah, sudah diidentifikasi demikian juga
beberapa gen yang jarang yang berpengaruh besar pada tekanan darah tetapi dasar
genetik dari hipertensi masih belum sepenuhnya dimengerti. Beberapa faktor
lingkungan mempengaruhi tekanan darah. Faktor gaya hidup yang menurunkan
tekanan darah di antaranya mengurangi asupan garam dalam makanan,
meningkatkan konsumsi buah-buahan dan produk rendah lemak (Pendekatan Diet
untuk Menghentikan Hipertensi (diet DASH)). Olah Raga, penurunan berat badan dan menurunkan asupan alkohol juga membantu menurunkan
tekanan darah. Kemungkinan peranan faktor lain seperti stres, konsumsi kafein,
dan defisiensi Vitamin Dkurang begitu jelas. Resistensi insulin, yang umum ditemukan pada
obesitas dan merupakan komponen dari sindrom
X
(atau sindrom metabolik), juga diduga ikut
berperan dalam mengakibatkan hipertensi. Studi terbaru juga memasukkan
kejadian-kejadian pada awal kehidupan (contohnya, berat lahir rendah, ibu merokok, dan
kurangnya air susu ibu) sebagai faktor risiko
bagi hipertensi esensial dewasa. Namun, mekanisme yang menghubungkan paparan
ini dengan hipertensi dewasa tetap tidak jelas.
Hipertensi sekunder
Hipertensi
sekunder terjadi akibat suatu penyebab yang diketahui. Penyakit ginjal adalah penyebab
sekunder tersering dari hipertensi. Hipertensi juga bisa disebabkan oleh
kondisi endokrin, seperti sindrom Cushing, hipertiroidisme, hipotiroidisme, akromegali, sindrom Conn atau hiperaldosteronisme, hiperparatiroidisme, dan feokromositoma. Penyebab lain dari
hipertensi sekunder di antaranya obesitas, henti nafas saat tidur, kehamilan, koarktasio aorta, konsumsi akar manis (licorice) yang berlebihan, serta
obat resep, obat herbal, dan obat-obat terlarang.
Patofisiologi
Bagi
kebanyakan orang dengan hipertensi esensial (primer), peningkatan resistensi
terhadap aliran darah (resistensi perifer total) bertanggung jawab atas
tekanan yang tinggi itu sementara curah jantung tetap normal. Ada bukti
bahwa beberapa orang muda yang menderita prahipertensi atau “hipertensi
perbatasan” memiliki curah jantung yang tinggi, denyut jantung meningkat, dan
resistensi perifer yang normal. Kondisi ini disebut sebagai hipertensi
perbatasan hiperkinetik .
Para penderita ini mengembangkan fitur yang khas dari hipertensi esensial tetap
di kemudian hari saat curah jantung menurun dan resistensi perifer meningkat
seiring bertambahnya usia. Masih diperdebatkan apakah pola ini biasa dialami
oleh semua orang yang pada akhirnya mengalami hipertensi. Peningkatan
resistensi perifer pada hipertensi tetap terutama disebabkan oleh penyempitan
struktur arteri dan arteriol kecil. Penurunan jumlah atau kepadatan pembuluh
kapiler juga bisa ikut berperan dalam resistensi perifer. Hipertensi juga
dikaitkan dengan penurunan kelenturan vena perifer, yang bisa meningkatkan
venous return (volume darah yang kembali ke jantung), meningkatkan preload jantung, dan akhirnya
menyebabkan disfungsi diastolik. Masih belum jelas apakah
peningkatan konstriksi aktif pembuluh darah memegang peranan dalam hipertensi
esensial.
Tekanan nadi (perbedaan antara tekanan
darah sistolik dan diastolik) sering meningkat pada orang lanjut usia dengan
hipertensi. Pada keadaan ini dapat terjadi tekanan sistolik sangat tinggi di
atas normal, tetapi tekanan diastolik mungkin normal atau rendah. Kondisi ini
disebut hipertensi sistolik
terisolasi.
Tekanan nadi yang tinggi pada orang lanjut usia dengan hipertensi atau
hipertensi sistolik terisolasi disebabkan karena peningkatan kekakuan arteri, yang biasanya menyertai
penuaan dan dapat diperberat oleh tekanan darah tinggi.
Banyak
mekanisme yang sudah diajukan sebagai penyebab peningkatan resistensi yang
ditemukan dalam sistem arteri pada hipertensi. Sebagian besar bukti menunjukkan
keterlibatan salah satu atau kedua penyebab beriku:
- Gangguan dalam penanganan garam
dan air pada ginjal, khususnya gangguan sistem
renin-angiotensin
intrarenal.
- Abnormalitas sistem saraf simpatis.
Mekanisme
tersebut tidak berdiri sendiri dan tampaknya keduanya ikut berperan sampai
batas tertentu dalam kebanyakan kasus hipertensi esensial. Juga diduga bahwa disfungsi endotel (gangguan fungsi dinding
pembuluh darah) dan peradangan vaskular juga ikut
berperan dalam meningkatkan resistensi perifer dan kerusakan pembuluh darah
pada hipertensi.
Diagnosis
|
Pemeriksaan yang dilakukan pada hipertensi
|
|
|
Sistem
|
Pemeriksaan
|
|
Lain-lain
|
|
Diagnosis
hipertensi ditegakkan saat pasien menderita tekanan darah tinggi secara
persisten. Biasanya, untuk menegakkan diagnosis diperlukan tiga kali pengukuran
sfigmomanometer yang berbeda dengan interval satu bulan. Pemeriksaan awal
pasien dengan hipertensi mencakup anamnesis dan pemeriksaan fisik lengkap. Dengan
tersedianya pemantauan tekanan darah ambulatori 24 jam dan alat pengukur
tekanan darah di rumah, demi menghindari kekeliruan diagnosis pada pasien
dengan hipertensi white coat (jenis hipertensi yang disebabkan oleh stres saat
bertemu dokter atau berada dalam suasana medis) telah dihasilkan suatu
perubahan protokol. Di Inggris, praktik terbaik yang dianjurkan saat ini adalah
dengan melakukan follow-up satu kali hasil pengukuran tekanan darah yang tinggi
di klinik dengan pengukuran ambulatori. Follow-up juga dapat dilakukan,
walaupun kurang ideal, dengan memonitor tekanan darah di rumah selama kurun
waktu tujuh hari.
Sekali
diagnosis telah ditegakkan, dokter berusaha mengindentifikasi penyebabnya
berdasarkan faktor risiko dan gejala lainnya, bila ada. Hipertensi sekunder lebih sering ditemukan
pada anak usia prapubertas dan sebagian besar kasus disebabkan oleh penyakit ginjal. Hipertensi primer atau
esensial lebih umum pada orang dewasa dan memiliki berbagai faktor risiko, di
antaranya obesitas dan riwayat hipertensi dalam keluarga. Pemeriksaan
laboratorium juga dapat dilakukan untuk mengidentifikasi kemungkinan penyebab
hipertensi sekunder, dan untuk menentukan apakah hipertensi menyebabkan
kerusakan pada jantung, mata, dan ginjal. Pemeriksaan tambahan untuk diabetes dan kadar kolesterol tinggi dilakukan karena kondisi
ini merupakan faktor risiko terjadinya penyakit
jantung
dan mungkin memerlukan penanganan. Kadar kreatinin darah diukur untuk menilai
adanya gangguan ginjal, yang mungkin merupakan penyebab atau akibat dari
hipertensi. Kadar kreatinin darah saja dapat memberikan dugaan yang terlalu
tinggi untuk laju filtrasi glomerulus. Panduan terkini
menganjurkan penggunaan rumus prediktif seperti formula Modification of Diet in
Renal Disease
(MDRD) untuk memperkirakan laju filtrasi glomerulus (eGFR). eGFR juga dapat
memberikan nilai awal/dasar fungsi ginjal yang dapat digunakan untuk memonitor
efek samping obat antihipertensi tertentu pada fungsi ginjal. Pemeriksaan protein pada sampel urin digunakan
juga sebagai indikator sekunder penyakit ginjal. Pemeriksaan Elektrokardiogram (EKG/ECG) dilakukan untuk
memeriksa tanda-tanda adanya beban yang berlebihan pada jantung akibat tekanan
darah tinggi. Pemeriksaan ini juga dapat menunjukkan adanya penebalan dinding
jantung (hipertrofi ventrikel kiri) atau tanda bahwa jantung
pernah mengalami gangguan ringan seperti serangan jantung tanpa gejala (silent
heart attack). Pemeriksaan foto Röntgen dada atau ekokardiogram juga dapat dilakukan untuk
melihat tanda pembesaran atau kerusakan pada jantung.
Pencegahan
Cukup
banyak orang yang mengalami hipertensi tetapi tidak menyadarinya. Diperlukan
tindakan yang mencakup seluruh populasi untuk mengurangi akibat tekanan darah
tinggi dan meminimalkan kebutuhan terapi dengan obat antihipertensi. Dianjurkan
perubahan gaya hidup untuk menurunkan tekanan darah, sebelum memulai terapi
obat. Pedoman British Hypertension Society 2004 mengajukan perubahan gaya hidup yang konsisten
dengan pedoman dari US National High BP Education Program tahun 2002 untuk
pencegahan utama bagi hipertensi sebagai berikut:
- Menjaga berat badan normal
(misalnya, indeks massa tubuh 20–25 kg/m2).
- Mengurangi asupan diet yang
mengandung natrium sampai <100 mmol/ hari (<6 g natrium klorida
atau <2,4 g natrium per hari). Banyak yang tidak menyadari bahwa makanan ringan dan juga mie instan banyak mengandung garam, demikian juga vetsin yang sebenarnya adalah monosodium glutamate,
karena sodium sebenarnya adalah nama lain dari natrium.
- Melakukan aktivitas fisik
aerobik secara teratur, misalnya jalan cepat (≥30 menit per hari, pada
hampir setiap hari dalam seminggu).
- Batasi konsumsi alkohol tidak
lebih dari 3 unit/hari pada laki-laki dan tidak lebih dari 2 unit/hari
pada perempuan.
- Mengonsumsi makanan yang kaya
buah dan sayuran (misalnya, sedikitnya lima porsi per hari).
Perubahan
gaya hidup yang efektif dapat menurunkan tekanan darah setara dengan
masing-masing obat antihipertensi. Kombinasi dari dua atau lebih perubahan gaya
hidup dapat memberikan hasil lebih baik.
Penatalaksanaan hipertensi
Penatalaksanaan
hipertensi dibedakan menjadi dua. Pada hipertensi ringan tanpa faktor resiko
atau kerusakan organ, penatalaksanaannya adalah dengan perubahan gaya hidup dan
memantau pasien selama 6-12 bulan. Pada hipertensi berat yang disertai dengan
faktor resiko dan kerusakan organ, penatalaksanaannya menggunakan terapi
farmakologi (obat).
Perubahan gaya hidup
Penanganan
tipe pertama untuk hipertensi identik dengan menganjurkan perubahan gaya hidup
yang bersifat pencegahan dan meliputi perubahan diet, olah raga, dan penurunan
berat badan. Semua perubahan ini telah terbukti menurunkan tekanan darah secara
bermakna pada orang dengan hipertensi. Jika hipertensi cukup tinggi dan
memerlukan pemberian obat segera, perubahan gaya hidup tetap disarankan.
Berbagai program diiklankan dapat mengurangi hipertensi dan dirancang untuk
mengurangi tekanan psikologis misalnya biofeedback, relaksasi, atau meditasi.
Namun, secara umum belum ada penelitian yang secara ilmiah mendukung
efektivitas program ini, karena penelitian yang ada masih berkualitas rendah.
Perubahan
asupan diet seperti diet rendah natrium sangat bermanfaat. Diet
rendah natrium jangka panjang (lebih dari 4 minggu) pada Kaukasia efektif menurunkan tekanan
darah, baik pada penderita hipertensi maupun pada orang dengan tekanan darah
normal. Selain itu, diet DASH, suatu diet kaya
kacang-kacangan, biji-bijian, ikan, unggas, buah, dan sayuran, yang
dipromosikan oleh National Heart, Lung, and
Blood Institute, menurunkan tekanan darah. Keistimewaan utama dari
program ini adalah membatasi asupan natrium, namun demikian diet ini
kaya [kalium]], magnesium, kalsium, dan protein.
Pengobatan
Saat
ini tersedia beberapa golongan obat yang secara keseluruhan disebut obat antihipertensi, untuk pengobatan
hipertensi. Risiko kardiovaskuler (termasuk risiko infark miokard dan stroke)
dan hasil pemeriksaan tekanan darah menjadi pertimbangan ketika meresepkan
obat. Jika pengobatan dimulai, Seventh Joint National Committee on High Blood
Pressure (JNC-7) dari National Heart, Lung, and Blood Institute menyarankan agar dokter memonitor respons
pasien terhadap pengobatan serta menilai apakah terjadi efek samping akibat
obat yang digunakan. Penurunan tekanan
darah
sebesar 5 mmHg dapat mengurangi risiko stroke sebesar 34% dan risiko penyakit jantung iskemik hingga 21%. Penurunan
tekanan darah juga dapat mengurangi kemungkinan demensia, gagal jantung, dan mortalitas yang disebabkan oleh penyakit kardiovaskuler. Pengobatan harus
ditujukan untuk mengurangi tekanan darah hingga kurang dari 140/90 mmHg
untuk sebagian besar orang, dan lebih rendah lagi untuk mereka yang memiliki
diabetes atau penyakit ginjal. Sejumlah praktisi medis menyarankan agar tekanan
darah dijaga pada level di bawah 120/80 mmHg. Jika tekanan darah yang
diharapkan tidak tercapai, maka diperlukan pengobatan lebih lanjut.
Pedoman
mengenai pilihan obat dan cara terbaik untuk menentukan pengobatan untuk
berbagai sub-kelompok pun berubah seiring berjalannya waktu dan berbeda-beda di
berbagai negara. Para ahli berbeda pendapat mengenai pengobatan terbaik untuk
hipertensi. Pedoman Kolaborasi Cochrane, World Health Organization, dan Amerika Serikat
mendukung diuretik golongan tiazid dosis rendah sebagai
terapi pilihan untuk lini pertama. Pedoman di Inggris menekankan penghambat kanal kalsium (calcium channel
blocker/CCB) untuk orang yang berusia di atas 55 tahun atau yang berdarah
Afrika atau Karibia. Pedoman ini menyarankan penghambat enzim konversi
angiotensin
(angiotensin-converting enzyme inhibitor/ACEI) yang merupakan obat pilihan yang
dianjurkan untuk pengobatan lini pertama pasien berusia muda.
Di Jepang, pengobatan dianggap wajar apabila dimulai dengan satu dari 6
golongan obat termasuk: CCB, ACEI/ARB, diuretik tiazid, penghambat reseptor beta, dan penghambat reseptor alfa. Di Kanada semua obat ini,
kecuali penghambat reseptor alfa, dianjurkan sebagai lini pertama yang dapat
digunakan.
Kombinasi obat
Banyak
orang memerlukan lebih dari satu obat untuk mengendalikan hipertensi mereka.
Pedoman JNC7 dan ESH-ESC menyarankan untuk memulai pengobatan dengan dua macam
obat apabila tekanan darah lebih dari 20 mmHg di atas target tekanan darah
sistolik atau lebih dari 10 mmHg di atas target diastolik. Kombinasi yang
lebih dipilih adalah penghambat sistem renin–angiotensin dengan antagonis
kalsium, atau penghambat sistem renin–angiotensin dengan diuretik.
Kombinasi yang dapat digunakan adalah sebagai berikut:
- Penghambat kanal kalsium dengan
diuretik
- Penghambat beta dengan diuretik
- Penghambat kanal kalsium
dihidropiridin dengan penghambat reseptor beta
- Penghambat kanal kalsium
dihidropiridin dengan verapamil atau diltiazem
Kombinasi
yang tidak boleh digunakan adalah sebagai berikut:
- Penghambat kanal kalsium
non-dihidropiridin (seperti verapamil atau diltiazem) dengan penghambat
reseptor beta
- Dua jenis penghambat sistem
renin–angiotensin (contohnya, penghambat enzim konversi angiotensin +
penghambat reseptor angiotensin)
- Penghambat sistem
renin–angiotensin dan penghambat reseptor beta
- Penghambat reseptor beta dan
obat anti-adrenergik.
Hindari
kombinasi penghambat ACE atau antagonis reseptor angiotensin II, diuretik, dan OAINS (termasuk penghambat COX-2
selektif dan obat bebas tanpa resep seperti ibuprofen) jika tidak mendesak,
karena tingginya risiko gagal ginjal akut. Istilah awam dari kombinasi ini
adalah "triple whammy" dalam literatur kesehatan Australia. Tersedia
tablet yang mengandung kombinasi tetap dari dua golongan obat tersebut.
Meskipun nyaman dikonsumsi, obat-obatan tersebut sebaiknya tidak diberikan
untuk pasien yang biasa menjalani terapi dengan komponen obat tunggal.
Pasien usia lanjut
Pengobatan
hipertensi pada hipertensi sedang hingga berat menurunkan tingkat kematian dan
efek samping kardiovaskuler pada pasien usia 60 tahun ke atas. Pada pasien yang
berusia lebih dari 80 tahun pengobatan tampaknya tidak mengurangi tingkat
kematian secara bermakna namun mengurangi risiko penyakit jantung. Target
tekanan darah yang direkomendasikan adalah kurang dari 140/90 mm Hg dengan
diuretik tiazid sebagai obat pilihan di
Amerika Serikat. Pada versi revisi pedoman Inggris, penghambat kanal kalsium merupakan obat pilihan
dengan target hasil pemeriksaan secara klinis kurang dari 150/90 mmHg,
atau kurang dari 145/85 mmHg pada pemantauan dengan tekanan darah
ambulatori atau di rumah.
Hipertensi resisten
Hipertensi
resisten adalah hipertensi yang terus berada di atas target tekanan darah,
meskipun telah digunakan tiga obat antihipertensi sekaligus dari golongan obat
antihipertensi yang berbeda. Pedoman pengobatan hipertensi resisten telah
dipublikasikan di Inggris and the US.
Kemungkinan terkena penyakit ini
Per
tahun 2000, hampir satu miliar orang atau kira-kira 26% dari populasi dewasa
dunia mengalami hipertensi. Ini biasa terjadi baik di negara maju (333 juta)
maupun negara berkembang (639 juta). Namun, angka ini sangat bervariasi di
beberapa wilayah dengan angka terendah 3,4% (laki-laki) dan 6,8% (perempuan) di
pedalaman India dan tertinggi 68,9% (laki-laki) dan 72,5% (perempuan) di
Polandia.
Pada
1995 diperkirakan 43 juta orang di Amerika Serikat mengalami hipertensi atau
menjalani terapi antihipertensi. Angka ini mewakili hampir 24% dari populasi
dewasa di AS. Jumlah hipertensi di Amerika Serikat meningkat dan mencapai 29%
pada 2004. Per tahun 2006 hipertensi menyerang 76 juta orang dewasa di Amerika
Serikat (34% dari populasi) dan kasus terbanyak terjadi pada orang dewasa ras
Afrika-Amerika yakni sebesar 44%. Penyakit ini lebih banyak dialami oleh
penduduk asli Amerika dan lebih sedikit dialami oleh kelompok kulit putih dan ras Meksiko-Amerika. Jumlah ini meningkat
seiring bertambahnya usia, dan lebih banyak ditemukan pada Amerika Serikat bagian
tenggara.
Hipertensi lebih banyak ditemukan pada laki-laki daripada perempuan (meskipun selisih
tersebut cenderung menurun pada perempuan menopause) dan pada kelompok dengan status sosioekonomi rendah.
Anak
Jumlah
tekanan darah tinggi pada anak semakin meningkat. Sebagian besar hipertensi
pada anak, terutama pada usia pra-remaja, merupakan hipertensi sekunder akibat
penyakit yang mendasarinya. Selain obesitas, penyakit ginjal menjadi penyebab
hipertensi yang tersering (60–70%) pada anak. Remaja biasanya mengalami
hipertensi primer atau esensial (tidak diketahui penyebabnya), yakni mencapai
85–95% dari seluruh kasus.
Sejarah
Gambar
pembuluh vena dari Exercitatio anatomica de motu cordis et sanguinis in
animalibus karya Harvey (“Suatu Praktik Anatomi mengenai Pergerakan Jantung
dan Darah pada Makhluk Hidup”)
Pemikiran
modern tentang sistem kardiovaskuler dimulai dengan karya dokter William Harvey (1578–1657). Harvey
menjelaskan tentang sirkulasi darah di dalam bukunya yang berjudul De otu
ordis ("Pergerakan Jantung dan Darah"). Seorang pendeta Inggris Stephen Hales membuat publikasi pertama
mengenai pengukuran tekanan darah pada tahun 1733. Deskripsi hipertensi sebagai
suatu penyakit datang dari, di antaranya, Thomas
Young
pada tahun 1808 dan Richard Bright pada tahun 1836. Laporan
pertama tentang tekanan darah yang meningkat pada seseorang tanpa bukti adanya
penyakit ginjal dibuat oleh Frederick Akbar Mahomed (1849–1884). Namun,
hipertensi sebagai sebuah entitas klinis baru muncul pada 1896 dengan
ditemukannya sfigmomanometer menggunakan manset oleh Scipione Riva-Rocci pada 1896. Dengan penemuan
ini, pengukuran tekanan darah dapat dilakukan di klinik. Pada 1905, Nikolai Korotkoff mengembangkan teknik
tersebut dengan mendeskripsikan bunyi Korotkoff yang terdengar saat arteri
diauskultasi dengan stetoskop pada saat manset sfigmomanometer dikempiskan.
Menurut sejarah, pengobatan untuk apa yang disebut dengan "penyakit nadi
keras (hard pulse disease)" terdiri dari penurunan jumlah darah melalui pengeluaran darah atau penggunaan lintah. Yellow Emperor dari Cina, Cornelius Celsus, Galen, dan Hippocrates menyarankan pengeluaran
darah. Pada abad ke-19 dan ke-20,
sebelum adanya terapi farmakologi yang efektif untuk hipertensi, digunakan tiga
modalitas pengobatan, semuanya dengan berbagai efek samping. Modalitas ini
mencakup pembatasan ketat konsumsi natrium (contohnya, diet nasi), simpatektomi (ablasi bedah pada bagian sistem saraf simpatis), dan terapi pirogen
(penyuntikan zat yang menyebabkan demam, secara tidak langsung menurunkan
tekanan darah). Zat kimia pertama untuk hipertensi, natrium tiosianat, digunakan pada 1900 namun
memiliki banyak efek samping dan kurang disukai. Beberapa jenis obat lainnya
dikembangkan setelah Perang Dunia Kedua. Yang paling disukai dan
cukup efektif adalah tetrametilamonium klorida dan turunannya heksametonium, hidralazin, dan reserpin (turunan dari tumbuhan
obat Rauwolfia serpentina). Terobosan besar dicapai
dengan penemuan obat oral pertama yang dapat ditoleransi dengan baik. Yang
pertama klorotiazid, diuretik tiazid pertama, yang dikembangkan
dari antibiotik sulfanilamid dan mulai tersedia pada
1958. Obat ini meningkatkan ekskresi garam dan mencegah akumulasi cairan. Uji klinik acak terkontrol yang disponsori oleh Veterans Administration membandingkan hidroklorotiazid plus reserpin plus
hidralazin versus plasebo. Penelitian ini dihentikan lebih awal karena pada
kelompok tekanan darah tinggi yang tidak mendapatkan pengobatan terjadi lebih
banyak komplikasi dibandingkan pasien yang diobati, dan dirasakan tidak etis
untuk tidak memberikan pengobatan kepada mereka. Penelitian tersebut
dilanjutkan pada kelompok pasien dengan tekanan darah yang lebih rendah dan
menunjukkan bahwa bahkan pada pasien dengan hipertensi ringan, pengobatan dapat
mengurangi hampir lebih dari setengah risiko kematian akibat penyakit
kardiovaskuler. Pada 1975, Lasker Special Public Health Award diberikan kepada tim yang
telah mengembangkan klorotiazid. Hasil penelitian ini mendorong kampanye
kesehatan masyarakat untuk meningkatkan kesadaran terhadap hipertensi dan
mempromosikan pengukuran dan pengobatan tekanan darah tinggi. Pengukuran ini
tampaknya telah memegang sebagian peranan dalam penurunan angka stroke dan
penyakit jantung iskemik sebesar 50% antara 1972 dan 1994.
Masyarakat dan budaya
Kesadaran
Grafik
menunjukkan perbandingan prevalensi kesadaran, pengobatan dan pengendalian
hipertensi antara empat penelitian NHANES
World Health Organization telah mengidentifikasi
hipertensi, atau tekanan darah tinggi, sebagai penyebab utama mortalitas kardiovaskuler. World Hypertension League (WHL), sebuah organisasi yang
menaungi 85 organisasi masyarakat dan liga hipertensi nasional, menyatakan
bahwa lebih dari 50% orang yang terkena hipertensi di seluruh dunia tidak
menyadari kondisi mereka.[94] Untuk mengatasi masalah
ini, WHL merintis suatu kampanye hipertensi di seluruh dunia pada 2005 dan
menetapkan tanggal 17 Mei sebagai Hari Hipertensi Dunia (WHD). Selama tiga tahun terakhir, semakin banyak
organisasi masyarakat dari berbagai negara yang terlibat dalam WHD dan mulai
melakukan kegiatan inovatif untuk menyampaikan pesan mereka kepada masyarakat.
Pada 2007, tercatat ada 47 negara anggota WHL yang berpartisipasi. Selama pekan
WHD, semua negara ini bermitra dengan pemerintah setempat, organisasi profesi,
organisasi non-pemerintah, dan industri swasta untuk mempromosikan kesadaran mengenai
hipertensi tersebut melalui beberapa media dan kampanye masyarakat.
Dengan menggunakan media massa seperti Internet dan televisi, pesan tersebut menjangkau
lebih dari 250 juta orang. Dengan semakin meningkatnya momentum ini dari tahun
ke tahun, WHL yakin bahwa hampir semua dari sekitar 1,5 miliar orang yang
terkena tekanan darah tinggi dapat dijangkau.
Segi ekonomi
Tekanan
darah tinggi adalah masalah medis kronis tersering yang membawa orang berobat
ke tempat pelayanan kesehatan primer di Amerika Serikat. American Heart
Association memperkirakan biaya kesehatan langsung dan tidak langsung dari
tekanan darah tinggi sebesar $76,6 miliar pada 2010. Di Amerika Serikat, 80%
orang yang mengalami hipertensi menyadari kondisi mereka dan 71% mengonsumsi
obat antihipertensi. Namun, hanya 48% orang yang mengetahui bahwa mereka
mengalami hipertensi, melakukan pengendalian hipertensi secara adekuat.
Diagnosis, pengobatan, atau kontrol tekanan darah tinggi yang tidak cukup dapat
mengganggu tata laksana hipertensi. Penyedia layanan kesehatan menghadapi banyak kendala
dalam mencapai pengendalian tekanan darah, termasuk penolakan terhadap
penggunaan beberapa obat untuk mencapai target tekanan darah yang diharapkan.
Pasien juga mengalami kesulitan mematuhi jadwal minum obat dan mengubah gaya
hidup. Meskipun demikian, target tekanan darah sangat mungkin dapat dicapai.
Menurunkan tekanan darah berarti mengurangi biaya untuk perawatan medis yang
lebih lanjut.
Kesadaran
Grafik
menunjukkan perbandingan prevalensi kesadaran, pengobatan dan pengendalian
hipertensi antara empat penelitian NHANES[82]
World Health Organization telah mengidentifikasi
hipertensi, atau tekanan darah tinggi, sebagai penyebab utama mortalitas kardiovaskuler. World Hypertension League (WHL), sebuah organisasi yang
menaungi 85 organisasi masyarakat dan liga hipertensi nasional, menyatakan
bahwa lebih dari 50% orang yang terkena hipertensi di seluruh dunia tidak
menyadari kondisi mereka.[94] Untuk mengatasi masalah
ini, WHL merintis suatu kampanye hipertensi di seluruh dunia pada 2005 dan
menetapkan tanggal 17 Mei sebagai Hari Hipertensi Dunia (WHD). Selama tiga tahun terakhir, semakin banyak
organisasi masyarakat dari berbagai negara yang terlibat dalam WHD dan mulai
melakukan kegiatan inovatif untuk menyampaikan pesan mereka kepada masyarakat.
Pada 2007, tercatat ada 47 negara anggota WHL yang berpartisipasi. Selama pekan
WHD, semua negara ini bermitra dengan pemerintah setempat, organisasi profesi,
organisasi non-pemerintah, dan industri swasta untuk mempromosikan kesadaran
mengenai hipertensi tersebut melalui beberapa media dan kampanye masyarakat.
Dengan menggunakan media massa seperti Internet dan televisi, pesan tersebut menjangkau
lebih dari 250 juta orang. Dengan semakin meningkatnya momentum ini dari tahun
ke tahun, WHL yakin bahwa hampir semua dari sekitar 1,5 miliar orang yang
terkena tekanan darah tinggi dapat dijangkau.[95]
Referensi
- Carretero OA, Oparil S (January
2000). "Essential
hypertension. Part I: Definition and etiology". Circulation 101 (3): 329–35. doi:10.1161/01.CIR.101.3.329. PMID 10645931.
- Chobanian AV, Bakris GL, Black
HR, et al. (December 2003). "Seventh report
of the Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation, and
Treatment of High Blood Pressure".
Hypertension 42 (6): 1206–52. doi:10.1161/01.HYP.0000107251.49515.c2. PMID 14656957.
- National Clinical Guidance Centre
(August 2011). "7 Diagnosis of
Hypertension, 7.5 Link from evidence to recommendations". Hypertension (NICE CG 127). National Institute for
Health and Clinical Excellence.
hlm. 102. Diakses 2011-12-22.
- Mancia G, De Backer G,
Dominiczak A, et al. (September 2007). "2007 ESH-ESC Practice
Guidelines for the Management of Arterial Hypertension: ESH-ESC Task Force
on the Management of Arterial Hypertension". J. Hypertens. 25
(9): 1751–62. doi:10.1097/HJH.0b013e3282f0580f. PMID 17762635.
- Williams B, Poulter NR, Brown
MJ, et al. (March 2004). "Guidelines for management of
hypertension: report of the fourth working party of the British
Hypertension Society, 2004-BHS IV". J Hum Hypertens 18
(3): 139–85. doi:10.1038/sj.jhh.1001683. PMID 14973512.
- Dionne JM, Abitbol CL, Flynn JT
(January 2012). "Hypertension in infancy: diagnosis, management and
outcome". Pediatr. Nephrol. 27 (1): 17–32. doi:10.1007/s00467-010-1755-z. PMID 21258818.
- ^ Din-Dzietham R, Liu Y, Bielo MV, Shamsa F (September 2007). "High blood pressure trends in children and adolescents in national surveys, 1963 to 2002". Circulation 116 (13): 1488–96. doi:10.1161/CIRCULATIONAHA.106.683243. PMID 17846287.







