Human immunodeficiency virus
|
||||||
|
||||||
Spesies
|
||||||
|
International Statistical Classification of
Diseases and Related Health Problems Codes
|
|
Klasifikasi dan rujukan eksternal
|
|
B20-B24
|
|
Virus imunodifisiensi manusia bahasa Inggris: human
immunodeficiency virus; HIV ) adalah suatu virus yang dapat menyebabkan penyakit AIDS. Virus ini menyerang manusia dan
menyerang sistem kekebalan (imunitas) tubuh, sehingga tubuh menjadi lemah dalam
melawan infeksi. Tanpa pengobatan, seorang dengan HIV bisa bertahan hidup
selama 9-11 tahun setelah terinfeksi, tergantung tipenya. Dengan kata lain,
kehadiran virus ini dalam tubuh akan menyebabkan defisiensi (kekurangan) sistem
imun. Penyaluran virus HIV bisa melalui penyaluran Semen
(reproduksi), Darah, cairan vagina, dan ASI. HIV bekerja dengan membunuh
sel-sel penting yang dibutuhkan oleh manusia, salah satunya adalah Sel T pembantu, Makrofaga, Sel dendritik. Ini
menyebabkan penurunan pada angka CD4 Sel T.
Di tahun 2014, the Joint United Nation Program on
HIV/AIDS (UNAIDS) memberikan rapor merah kepada Indonesia sehubungan
penanggulangan HIV/AIDS. Pasien baru meningkat 47 persen sejak 2005. Kematian
akibat AIDS di Indonesia masih tinggi, karena hanya 8 persen Orang Dengan HIV
AIDS (ODHA) yang mendapatkan pengobatan obat antiretroviral (ARV).
Sejarah
Pada tahun 1983, Jean Claude Chermann dan Françoise
Barré-Sinoussi dari Perancis berhasil mengisolasi
HIV untuk pertama kalinya dari seorang penderita sindrom limfadenopati.[4] Pada awalnya, virus itu disebut ALV (lymphadenopathy-associated
virus)[5] Bersama dengan Luc Montagnier, mereka
membuktikan bahwa virus tersebut merupakan penyebab AIDS.[5] Pada awal tahun 1984, Robert Gallo dari Amerika Serikat juga
meneliti tentang virus penyebab AIDS yang disebut HTLV-III.[4][6] Setelah diteliti lebih lanjut, terbukti bahwa ALV dan
HTLV-III merupakan virus yang sama dan pada tahun 1986, istilah yang digunakan
untuk menyebut virus tersebut adalah HIV, atau lebih spesifik lagi disebut
HIV-1.
Tidak lama setelah
HIV-1 ditemukan, suatu subtipe baru ditemukan di Portugal dari pasien yang
berasal dari Afrika
Barat dan kemudian disebut HIV-2. Melalui kloning dan analisis
sekuens (susunan genetik), HIV-2 memiliki perbedaan sebesar 55% dari HIV-1 dan
secara antigenik berbeda. Perbedaan terbesar
lainnya antara kedua strain (galur) virus tersebut terletak pada glikoprotein
selubung. Penelitian lanjutan memperkirakan bahwa HIV-2 berasal dari SIV
(retrovirus yang menginfeksi primata)
karena adanya kemiripan sekuens dan reaksi silang antara antibodi terhadap
kedua jenis virus tersebut.
Klasifikasi
Berdasarkan susunan genetiknya, HIV-1 dibagi menjadi tiga
kelompok utama, yaitu M, N, dan O.[9] Kelompok HIV-1 M
terdiri dari 16 subtipe yang berbeda. Sementara pada kelompok N dan O belum
diketahui secara jelas jumlah subtipe virus yang tergabung di dalamnya. Namun,
kedua kelompok tersebut memiliki kekerabatan dengan SIV dari simpanse. HIV-2
memiliki 8 jenis subtipe yang diduga berasal dari Sooty mangabey yang
berbeda-beda. Apabila beberapa virus HIV dengan subtipe yang berbeda
menginfeksi satu individu yang sama, maka akan terjadi bentuk rekombinan
sirkulasi (circulating recombinant forms - CRF) (bahasa Inggris: circulating recombinant
form, CRF). Bagian dari genom beberapa subtipe HIV yang berbeda
akan bergabung dan membentuk satu genom utuh yang baru. Bentuk rekombinan yang
pertama kali ditemukan adalah rekombinan AG dari Afrika tengah dan barat,
kemudian rekombinan AGI dari Yunani dan Siprus, kemudian rekombinan AB dari Rusia dan AE dari Asia tenggara. Dari seluruh
infeksi HIV yang terjadi di dunia, sebanyak 47% kasus disebabkan oleh subtipe
C, 27% berupa CRF02_AG, 12,3% berupa subtipe B, 5.3% adalah subtipe D dan 3.2%
merupakan CRF AE, sedangkan sisanya berasal dari subtipe dan CRF lain.
Struktur dan Materi
Genetik
HIV memiliki diameter 100-150 nm dan berbentuk sferis (spherical)
hingga oval karena bentuk selubung yang menyelimuti partikel virus (virion).
Selubung virus berasal dari membran sel inang yang sebagian besar tersusun dari
lipida. Di dalam selubung terdapat bagian yang disebut protein matriks.
Bagian internal dari HIV terdiri dari dua komponen utama,
yaitu genom dan kapsid. Genom adalah materi genetik pada bagian inti virus yang
berupa dua kopi utas tunggal RNA. Sedangkan, kapsid adalah protein yang
membungkus dan melindungi genom.
Berbeda dengan sebagian besar retrovirus yang hanya
memiliki tiga gen (gag, pol, dan env), HIV memiliki enam
gen tambahan (vif, vpu, vpr, tat, ref, dan nef). Gen-gen tersebut
disandikan oleh RNA virus yang berukuran 9 kb. Kesembilan gen tersebut
dikelompokkan menjadi tiga kategori berdasarkan fungsinya, yaitu gen penyandi
protein struktural (Gag, Pol, Env), protein regulator (Tat, Rev), dan gen
aksesoris (Vpu hanya pada HIV-1, Vpx hanya pada HIV-2; Vpr, Vif, Nef).
Nama Gen dan Protein yang disandikan
|
Ukuran
|
Lokalisasi
|
Fungsi
|
Tat (trans-aktivator transkripsi)
|
86 asam amino (AA), 2 ekson, 14 kDalton
|
nukleus, nukleolus, protein awal
|
Penting untuk replikasi; Trans-aktivasi
ekspresi mRNA virus, mengatur ekspresi sitokin dan reseptor.
|
Rev (regulator ekspresi protein virus)
|
116 AA, 2 ekson, 19 kDalton
|
Penting untuk replikasi; mengatur transkripsi dan ekspresi protein Gag, Pol, Env, Vif, Vpu,
dan Vpr.
|
|
Vif (faktor infektivitas virus)
|
192 AA, 23 kDalton
|
||
Vpr (Protein R virus)
|
96-106 AA, 10-15 kDalton
|
komponen dari inti virus dan kompleks
membran
|
Mediasi replikasi di sel yang tidak
membelah
|
Vpx (Protein X virus)
|
112 AA, 12-16 kDalton
|
komponen virion
|
Berfungsi seperti Vpr
|
Vpu (Protein U virus)
|
81 AA (terfosforilasi), 9,2 & 16
kDalton
|
retikulum
endoplasma,
protein transmembran
|
Degradasi CD4; meningkatkan pelepasan HIV;
pembentukan membran protein integral; regulasi ekpresi permukaan sel terhadap
MHC I
|
Nef (Faktor Negatif)
|
206 AA, 27 kDalton
|
virion, sitoplasma, nukleus
|
Meningkatkan produksi HIV di tahap akhir;
mengatur ekspresi MHC I dan CD4[
|
Siklus Hidup
Seperti virus lain pada umumnya, HIV hanya dapat
bereplikasi dengan memanfaatkan sel inang. Siklus hidup HIV diawali dengan
penempelan partikel virus (virion) dengan reseptor pada permukaan sel inang, di
antaranya adalah CD4, CXCR5, dan CXCR5. Sel-sel yang menjadi target HIV adalah sel dendritik, sel T, dan makrofaga.
Sel-sel tersebut terdapat pada permukaan lapisan kulit dalam (mukosa) penis, vagina, dan oral yang biasanya menjadi tempat awal infeksi HIV.[13] Selain itu, HIV juga dapat langsung masuk ke aliran
darah dan masuk serta bereplikasi di noda limpa.[13]
Setelah menempel, selubung virus akan melebur (fusi)
dengan membran sel sehingga isi partikel virus akan terlepas di dalam sel.
Selanjutnya, enzim transkriptase balik yang dimiliki HIV akan mengubah genom virus yang berupa
RNA menjadi DNA. Kemudian, DNA virus akan dibawa ke inti sel manusia
sehingga dapat menyisip atau terintegrasi dengan DNA manusia. DNA virus yang
menyisip di DNA manusia disebut sebagai provirus dan dapat bertahan cukup lama
di dalam sel. Saat sel teraktivasi, enzim-enzim tertentu yang dimiliki sel
inang akan memproses provirus sama dengan DNA manusia, yaitu diubah
menjadi mRNA. Kemudian, mRNA akan dibawa keluar dari inti sel dan menjadi cetakan
untuk membuat protein dan enzim HIV. Sebagian RNA dari provirus yang merupakan
genom RNA virus. Bagian genom RNA tersebut akan dirakit dengan protein dan
enzim hingga menjadi virus utuh. Pada tahap perakitan ini, enzim
protease virus berperan penting untuk
memotong protein panjang menjadi bagian pendek yang menyusun inti virus.
Apabila HIV utuh telah matang, maka virus tersebut dapat keluar dari sel inang
dan menginfeksi sel berikutnya. Proses pengeluaran virus tersebut melalui
pertunasan (budding), di mana virus akan mendapatkan selubung dari membran permukaan sel inang.
Deteksi HIV
Umumnya, ada tiga tipe deteksi HIV, yaitu tes PCR, tes
antibodi HIV, dan tes antigen HIV. Tes reaksi berantai
polimerase (PCR) merupakan teknik
deteksi berbasis asam nukleat (DNA dan RNA) yang dapat mendeteksi keberadaan
materi genetik HIV di dalam tubuh manusia. Tes ini sering pula dikenal sebagai
tes beban virus atau tes amplifikasi asam nukleat (HIV NAAT). PCR DNA biasa
merupakan metode kualitatif yang hanya bisa mendeteksi ada atau tidaknya DNA
virus. Sedangkan, untuk deteksi RNA virus dapat dilakukan dengan metode real-time
PCR yang merupakan metode kuantitatif. Deteksi asam nukleat ini dapat
mendeteksi keberadaan HIV pada 11-16 hari sejak awal infeksi terjadi. Tes ini
biasanya digunakan untuk mendeteksi HIV pada bayi yang baru lahir, namun jarang
digunakan pada individu dewasa karena biaya tes PCR yang mahal dan tingkat
kesulitan mengelola dan menafsirkan hasil tes ini lebih tinggi bila
dibandingkan tes lainnya.
Untuk mendeteksi
HIV pada orang dewasa, lebih sering digunakan tes antibodi HIV yang murah dan akurat. Seseorang yang terinfeksi HIV
akan menghasilkan antibodi untuk melawan infeksi tersebut Tes antibodi HIV akan
mendeteksi antibodi yang terbentuk di darah, saliva (liur), dan urin. Sejak
tahun 2002, telah dikembangkan suatu penguji cepat (rapid test) untuk
mendeteksi antibodi HIV dari tetesan darah ataupun sampel liur (saliva) manusia.[ Sampel dari tubuh pasien tersebut akan
dicampur dengan larutan tertentu. Kemudian, kepingan alat uji (test strip)
dimasukkan dan apabila menunjukkan hasil positif maka akan muncul dua pita
berwarna ungu kemerahan. Tingkat akurasi dari alat uji ini mencapai 99.6%,
namun semua hasil positif harus dikonfirmasi kembali dengan ELISA Selain ELISA, tes antibodi HIV lain yang dapat digunakan
untuk pemeriksaan lanjut adalah Western blot.
Tes antigen dapat mendeteksi antigen (protein P24) pada
HIV yang memicu respon antibodi. Pada tahap awal infeksi HIV, P24 diproduksi
dalam jumlah tinggi dan dapat ditemukan dalam serum darah. Tes antibodi dan tes
antigen digunakan secara berkesinambungan untuk memberikan hasil deteksi yang
lebih akurat dan lebih awal. Tes ini jarang digunakan sendiri karena
sensitivitasnya yang rendah dan hanya bisa bekerja sebelum antibodi terhadap
HIV terbentuk.
Penularan dan Pencegahan
HIV dapat ditularkan melalui injeksi langsung ke aliran
darah, serta kontak membran mukosa atau
jaringan yang terlukan dengan cairan tubuh tertentu yang berasal dari penderita
HIV. Cairan tertentu itu meliputi darah, semen, sekresi vagina, dan ASI. Beberapa jalur penularan HIV yang telah diketahui
adalah melalui hubungan seksual, dari ibu ke anak (perinatal), penggunaan
obat-obatan intravena, transfusi dan transplantasi,
serta paparan pekerjaan.
Hubungan seksual
Menurut data WHO, pada tahun 1983-1995, sebanyak 70-80% penularan HIV
dilakukan melalui hubungan heteroseksual, sedangkan 5-10% terjadi melalui
hubungan homoseksual. Kontak seksual melalui vagina dan anal memiliki resiko
yang lebih besar untuk menularkan HIV dibandingkan dengan kontak seks secara
oral. Beberapa faktor lain yang dapat meningkatkan resiko
penularan melalui hubungan seksual adalah kehadiran penyakit menular seksual, kuantitas beban virus,
penggunaan douche. Seseorang yang menderita penyakit menular seksual lain
(contohnya: sifilis, herpes genitali, kencing nanah,
dsb.) akan lebih mudah menerima dan menularkan HIV kepada orang lain yang
berhubungan seksual dengannya. Beban virus merupakan jumlah virus aktif yang
ada di dalam tubuh. Penularah HIV tertinggi terjadi selama masa awal dan akhir
infeksi HIV karena beban virus paling tinggi pada waku tersebut. Pada rentan
waktu tersebut, beberapa orang hanya menimbulkan sedikit gejala atau bahkan
tidak sama sekali. Penggunaan douche dapat meningkatkan resiko penularan HIV
karena menghancurkan bakteri baik di sekitar vagina dan anus yang memiliki fungsi
proteksi. Selain itu, penggunaan douche setelah berhubungan seksual dapat
menekan bakteri penyebab penyakit masuk ke dalam tubuh dan mengakibatkan
infeksi.[
Pencegahan HIV melalui hubungan seksual dapat dilakukan
dengan tidak berganti-ganti pasangan dan menggunakan kondom. Cara pencegahan lainnya adalah dengan melakukan
hubungan seks tanpa menimbulkan paparan cairan tubuh. Untuk menurunkan beban
virus di dalam saluran kelamin dan darah, dapat digunakan terapi
anti-retroviral.
Ibu ke anak (transmisi
perinatal)
Penularan HIV dari ibu ke anak dapat terjadi melalui
infeksi in utero, saat proses persalinan, dan melalui pemberian ASI.
Beberapa faktor maternal dan eksternal lainnya dapat mempengaruhi transmisi HIV
ke bayi, di antaranya banyaknya virus dan sel imun pada trisemester pertama,
kelahiran prematur, dan lain-lain Penurunan sel imun (CD4+) pada ibu dan
tingginya RNA virus dapat meningkatkan resiko penularan HIV dari ibu ke anak.
Selain itu, sebuah studi pada wanita hamil di Malawi dan AS juga menyebutkan
bahwa kekurangan vitamin A dapat meningkatkan risiko infeksi HIV. Risiko
penularan perinatal dapat dilakukan dengan persalinan secara caesar, tidak
memberikan ASI, dan pemberian AZT pada masa akhir kehamilan dan setelah
kelahiran bayi. Di sebagian negara berkembang, pencegahan pemberian ASI
dari penderita HIV/AIDS kepada bayi menghadapi kesulitan karena harga susu
formula sebagai pengganti relatif mahal. Selain itu, para ibu juga harus
memiliki akses ke air bersih dan memahami cara mempersiapan susu formula yang
tepat.
Lain-lain
Cara efektif lain untuk penyebaran virus ini adalah
melalui penggunaan jarum atau alat suntik yang
terkontaminasi, terutama di negara-negara yang kesulitan dalam sterilisasi alat
kesehatan. Bagi pengguna obat intravena (dimasukkan melalui pembuluh darah), HIV
dapat dicegah dengan menggunakan jarum dan alat suntik yang bersih. Penularan
HIV melalui transplantasi dan transfusi hanya
menjadi penyebab sebagian kecil kasus HIV di dunia (3-5%). Hal ini pun dapat
dicegah dengan melakukan pemeriksaan produk darah dan transplan sebelum
didonorkan dan menghindari donor yang memiliki resiko tinggi terinfeksi HIV.
Penularan dari pasien ke petugas kesehatan yang
merawatnya juga sangat jarang terjadi (< 0.0001% dari keseluruhan kasus di
dunia). Hal ini dicegah dengan memeberikan pengajaran atau edukasi kepada
petugas kesehatan, pemakaian pakaian pelindung, sarung tangan, dan
pembuangan alat dan bahan yang telah terkontaminasi sesuai dengan prosedur. Pada tahun 2005, sempat diusulkan untuk melakukan sunat dalam rangka pencegahan HIV. Namun menurut WHO, tindakan
pencegahan tersebut masih terlalu awal untuk direkomendasikan.
Ada beberapa jalur penularan yang ditakutkan dapat
menyebarkan HIV, yaitu melalui ludah, gigitan nyamuk, dan kontak sehari-hari
(berjabat tangan, terekspos batuk dan bersin dari penderita HIV, menggunakan toilet dan alat makan bersama, berpelukan).
Namun, CDC (Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit) menyatakan bahwa
aktivitas tersebut tidak mengakibatkan penularan HIV. Beberapa aktivitas lain
yang sangat jarang menyebabkan penularan HIV adalah melalui gigitan manusia dan
beberapa tipe ciuman tertentu.
Sub-Sahara Afrika tetap merupakan daerah yang paling
parah terkena HIV di antara kaum perempuan hamil pada usia 15-24 tahun di
sejumlah negara di sana. Ini diduga disebabkan oleh banyaknya penyakit kelamin,
praktik menoreh tubuh, transfusi darah, dan
buruknya tingkat kesehatan dan gizi di sana.



