Hipertensi (HTN) atau tekanan
darah tinggi, kadang-kadang disebut juga dengan hipertensi arteri,
adalah kondisi medis kronis dengan tekanan darah di arteri meningkat. Peningkatan ini
menyebabkan jantung harus bekerja lebih keras dari biasanya untuk mengedarkan
darah melalui pembuluh darah. Tekanan darah melibatkan dua pengukuran, sistolik
dan diastolik, tergantung apakah otot jantung berkontraksi (sistole) atau
berelaksasi di antara denyut (diastole). Tekanan darah normal pada saat
istirahat adalah dalam kisaran sistolik (bacaan atas) 100–140 mmHg dan
diastolik (bacaan bawah) 60–90 mmHg. Tekanan darah tinggi terjadi bila
terus-menerus berada pada 140/90 mmHg atau lebih.
Hipertensi
terbagi menjadi hipertensi primer (esensial) atau hipertensi sekunder. Sekitar 90–95% kasus
tergolong "hipertensi primer", yang berarti tekanan darah tinggi
tanpa penyebab medis yang jelas. Kondisi lain yang mempengaruhi ginjal, arteri,
jantung, atau sistem endokrin menyebabkan 5-10% kasus lainnya (hipertensi
sekunder).
Hipertensi
adalah faktor resiko utama untuk stroke, infark miokard (serangan jantung), gagal jantung, aneurisma arteri (misalnya aneurisma aorta), penyakit arteri perifer, dan penyebab penyakit ginjal kronik. Bahkan peningkatan sedang
tekanan darah arteri terkait dengan harapan
hidup
yang lebih pendek. Perubahan pola makan dan gaya hidup dapat memperbaiki
kontrol tekanan darah dan mengurangi resiko terkait komplikasi kesehatan.
Meskipun demikian, obat seringkali diperlukan pada sebagian orang bila
perubahan gaya hidup saja terbukti tidak efektif atau tidak cukup dan biasanya
obat harus diminum seumur hidup sampai dokter memutuskan tidak perlu lagi minum
obat. Seseorang yang pernah mengalami tekanan darah tinggi, pada kondisi normal
dapat saja mengalami tekanan darah kembali dan ini yang harus diwaspadai,
banyak kasus stroke terjadi pada saat seseorang lepas obat. Dan banyak orang
tidak menyangka bahwa seseorang yang biasanya mengalami tekanan
darah rendah
suatu kali dapat juga mengalami tekanan darah tinggi. Oleh karena itu
pengontrolan tekanan darah secara rutin mutlak dilakukan.
Klasifikasi
|
Klasifikasi (JNC7)
|
Tekanan sistolik
|
Tekanan diastolik
|
||
|
mmHg
|
kPa
|
|||
|
Normal
|
90–119
|
12–15,9
|
60–79
|
8,0–10,5
|
|
Prahipertensi (normal tinggi)
|
120–139
|
16,0–18,5
|
80–89
|
10,7–11,9
|
|
Hipertensi Derajat 1
|
140–159
|
18,7–21,2
|
90–99
|
12,0–13,2
|
|
Hipertensi Derajat 2
|
≥160
|
≥21,3
|
≥100
|
≥13,3
|
|
≥140
|
≥18,7
|
<90
|
<12,0
|
|
Dewasa
Pada
orang berusia 18 tahun ke atas, hipertensi didefinisikan sebagai pengukuran
tekanan darah sistolik dan/atau diastolik yang terus-menerus melebihi nilai
normal yang dapat diterima (saat ini sistolik 139 mmHg, diastolik
89 mmHg: lihat tabel — Klasifikasi (JNC7)). Bila pengukuran diperoleh dari
pemantauan ambulatori 24 jam atau pemantauan di rumah, digunakan batasan yang
lebih rendah (sistolik 135 mmHg atau diastolik 85 mmHg). Beberapa
pedoman internasional terbaru tentang hipertensi juga telah membuat kategori di
bawah kisaran hipertensi untuk menunjukkan risiko yang berkelanjutan pada
tekanan darah yang lebih tinggi dari kisaran normal. JNC7 (2003) menggunakan
istilah pra-hipertensi untuk tekanan darah dalam kisaran sistolik
120–139 mmHg dan/atau diastolik 80–89 mmHg, sedangkan Pedoman ESH-ESC
(2007) dan BHS IV (2004) menggunakan kategori optimal, normal, dan normal
tinggi untuk membagi tekanan sistolik di bawah 140 mmHg dan diastolik di
bawah 90 mmHg. Hipertensi juga digolongkan lagi sebagai berikut: JNC7
membedakan hipertensi derajat I, hipertensi derajat II, dan hipertensi sistolik
terisolasi. Hipertensi sistolik terisolasi mengacu pada peningkatan tekanan
sistolik dengan tekanan diastolik normal dan umumnya terjadi pada kelompok usia
lanjut. Pedoman ESH-ESC (2007) dan BHS IV (2004), mendefinisikan hipertensi
derajat ketiga (derajat III) untuk orang dengan tekanan darah sistolik di atas
179 mmHg atau tekanan diastolik di atas 109 mmHg. Hipertensi
tergolong “resisten” bila obat penurun tekanan darah tertentu tidak mengurangi
tekanan darah (menjadi normal) dan perlu mencoba obat yang lain.
Disamping
klasifikasi di atas, terdapat juga:
- Gestational hypertension atau
tekanan darah tinggi yang terjadi pada saat kehamilan di atas 20 minggu
dan protein pada air seni adalah negatip dan harus dilakukan pengukuran
tekanan darah dua kali dengan selang waktu lebih dari 6 jam dan keduanya
menunjukkan tekanan darah lebih besar dari 140/90.
- Orthostatic hypertension atau
postural hypertension adalah kejadian meningkatnya tekanan darah secara
tiba-tiba ketika bangun berdiri, jika tekanan sistolik meningkat lebih
dari 20mmHg dinamakan systolic orthostatic hypertension dan jika tekanan
diastolik meningkat hingga 98 mmHg atau lebih dinamakan Diastolic
orthostatic hypertension. Hal ini lebih banyak terjadi, ketika kita
tiba-tiba bangun dari tidur yang pulas, oleh karenanya pengukuran tekanan
darah sebaiknya dilakukan 15 sampai 30 menit sesudah kita bangun tidur,
tetapi belum melakukan aktivitas apa pun, kecuali misalnya buang air kecil
dan minum air putih saja.
Neonatus dan bayi
Hipertensi
pada neonatus jarang terjadi, dan hanya
terjadi pada sekitar 0,2 sampai 3% neonatus. Tekanan darah tidak diukur secara
rutin pada bayi baru lahir yang sehat. Hipertensi lebih umum terjadi pada bayi
baru lahir berisiko tinggi. Berbagai faktor, seperti usia gestasi, usia pascakonsepsi, dan berat badan lahir perlu dipertimbangkan
ketika memutuskan apakah tekanan darah termasuk normal pada neonatus.
Anak dan remaja
Hipertensi
cukup umum terjadi pada anak dan remaja (2–9% bergantung pada usia, jenis
kelamin, dan etnisitas) dan dikaitkan dengan risiko jangka panjang mengalami
kesehatan yang buruk. Rekomendasi saat ini
adalah agar anak di atas usia tiga tahun diperiksa tekanan darahnya kapanpun
mereka melakukan kunjungan atau pemeriksaan rutin. Tekanan darah tinggi baru
dipastikan setelah kunjungan berulang sebelum menyatakan seorang anak mengalami
hipertensi. Tekanan darah meningkat seiring usia pada masa kanak-kanak, dan
pada anak, hipertensi didefinisikan sebagai rerata tekanan darah sistolik dan
diastolik yang pada tiga atau lebih waktu yang berbeda, sama dengan atau lebih
tinggi dari persentil ke-95 yang sesuai untuk jenis kelamin, usia, dan tinggi
badan anak. Prahipertensi pada anak didefinisikan sebagai rerata tekanan darah
sistolik dan diastolik yang lebih besar atau sama dengan persentil ke-90, tapi
lebih kecil dari persentil ke-95. Pada remaja, diusulkan bahwa hipertensi dan
prahipertensi didiagnosis dan digolongkan dengan menggunakan kriteria dewasa.
Tanda-tanda dan gejala
Hipertensi
jarang menunjukkan gejala, dan pengenalannya biasanya melalui skrining, atau saat mencari
penanganan medis untuk masalah kesehatan yang tidak berkaitan. Beberapa orang
dengan tekanan darah tinggi melaporkan sakit
kepala
(terutama di bagian belakang kepala dan pada pagi hari), serta pusing, vertigo, tinitus (dengung atau desis di
dalam telinga), gangguan penglihatan atau pingsan.
Pada
pemeriksaan fisik, hipertensi juga dicurigai
ketika terdeteksi adanya retinopati hipertensi pada pemeriksaan fundus optik di belakang mata dengan
menggunakan oftalmoskop. Biasanya beratnya
perubahan retinopati hipertensi dibagi atas tingkat I-IV, walaupun jenis yang
lebih ringan mungkin sulit dibedakan antara satu dan lainnya. Hasil
oftalmoskopi juga dapat memberi petunjuk berapa lama seseorang telah mengalami
hipertensi.
Hipertensi sekunder
Beberapa
tanda dan gejala tambahan dapat menunjukkan hipertensi sekunder, yaitu hipertensi akibat
penyebab yang jelas seperti penyakit
ginjal
atau penyakit endokrin. Contohnya, obesitas pada
dada dan perut, intoleransi glukosa, wajah bulat seperti bulan
(moon facies),
"punuk kerbau" (buffalo hump), dan striae ungu menandakan Sindrom Cushing. Penyakit tiroid dan akromegali juga dapat menyebabkan
hipertensi dan mempunyai gejala dan tanda yang khas. Bising perut mungkin
mengindikasikan stenosis arteri renalis (penyempitan arteri yang
mengedarkan darah ke ginjal). Berkurangnya tekanan darah di kaki atau lambatnya
atau hilangnya denyut arteri femoralis mungkin menandakan koarktasio aorta (penyempitan aorta sesaat
setelah meninggalkan jantung). Hipertensi yang sangat bervariasi dengan sakit
kepala, palpitasi, pucat, dan berkeringat harus segera menimbulkan kecurigaan
ke arah feokromositoma.
Krisis hipertensi
Peningkatan
tekanan darah yang sangat tinggi (sistolik lebih atau sama dengan 180 atau
diastolik lebih atau sama dengan 110, kadang disebut hipertensi maligna atau
akselerasi) sering disebut sebagai "krisis hipertensi." Tekanan darah
di atas tingkat ini memiliki risiko yang tinggi untuk terjadinya komplikasi.
Orang dengan tekanan darah pada kisaran ini mungkin tidak memiliki gejala,
tetapi lebih cenderung melaporkan sakit kepala (22% dari kasus) dan pusing
dibandingkan dengan populasi umum. Gejala lain krisis hipertensi mencakup
berkurangnya penglihatan atau sesak napas karena gagal jantung atau rasa lesu karena gagal ginjal. Kebanyakan orang dengan
krisis hipertensi diketahui memiliki tekanan darah tinggi, tetapi pemicu
tambahan mungkin menyebabkan peningkatan secara tiba-tiba.
"Hipertensi
emergensi", sebelumnya disebut sebagai "hipertensi maligna",
terjadi saat terdapat bukti kerusakan langsung pada satu organ atau lebih
sebagai akibat meningkatnya tekanan darah. Kerusakan ini bisa mencakup ensefalopati hipertensi, disebabkan oleh
pembengkakan dan gangguan fungsi otak, dan ditandai oleh sakit kepala dan gangguan kesadaran (kebingungan atau rasa
kantuk). Papiledema retina dan perdarahan fundus serta eksudat adalah tanda lain
kerusakan organ target. Nyeri dada dapat merupakan tanda
kerusakan otot jantung (yang bisa berlanjut menjadi serangan jantung) atau kadang diseksi aorta, robeknya dinding dalam aorta. Sesak napas, batuk, dan
ekspektorasi dahak bernoda darah adalah ciri khas edema paru. Kondisi ini adalah
pembengkakan jaringan paru akibat gagal ventrikel kiri, ketidakmampuan ventrikel kiri jantung untuk memompa
cukup darah dari paru-paru ke sistem arteri. Penurunan fungsi ginjal secara
cepat (cedera ginjal akut/acute kidney injury) dan anemia hemolitik
mikroangiopati
(penghancuran sel-sel darah) juga mungkin terjadi. Pada situasi ini, harus
dilakukan penurunan tekanan darah secara cepat untuk menghentikan kerusakan
organ yang sedang terjadi. Sebaliknya, tidak ada bukti bahwa tekanan darah
perlu diturunkan secara cepat dalam keadaan hipertensi emergensi bila tidak ada
bukti kerusakan organ target. Penurunan tekanan darah yang terlalu agresif
bukan berarti tidak ada risiko. Penggunaan obat-obatan oral untuk menurunkan
tekanan darah secara bertahap selama 24 sampai 48 jam dianjurkan dalam
kedaruratan hipertensi.
Kehamilan
Hipertensi
atau tekanan darah tinggi terjadi pada sekitar 8-10% kehamilan. Kebanyakan
wanita hamil yang mengalami hipertensi memiliki kondisi hipertensi primer yang
sudah ada sebelumnya. Tekanan darah tinggi dalam kehamilan dapat merupakan
tanda awal dari pre-eklampsia, suatu kondisi serius yang
muncul setelah melewati pertengahan masa kehamilan, dan dalam beberapa minggu
setelah melahirkan. Diagnosa preeklampsia termasuk peningkatan tekanan darah
dan adanya protein di dalam urin. Preeklampsia muncul pada sekitar 5% kehamilan
dan bertanggung jawab atas sekitar 16% dari semua kematian ibu secara global.
Preeklampsia juga menyebabkan risiko kematian bayi meningkat hingga dua kali
lipat. Biasanya preeklampsia tidak menunjukkan gejala dan keadaan ini
terdeteksi pada pemeriksaan rutin. Bila terjadi preeklampsia, gejala yang
paling umum adalah sakit kepala, gangguan penglihatan (sering dalam bentuk
“kilatan cahaya”), muntah, nyeri epigastrium, dan edema (bengkak). Terkadang
preeklampsia bisa berkembang menjadi kondisi yang mengancam nyawa yang disebut eklampsia. Eklampsia adalah suatu hipertensi emergensi dan menyebabkan beberapa
komplikasi berat, seperti hilangnya penglihatan, pembengkakan otak, kejang tonik-klonik atau konvulsi, gagal ginjal, edema paru, dan koagulasi intravaskular
diseminata
(gangguan pembekuan darah).
Bayi dan anak
Gagal tumbuh, kejang, iritabilitas, kurang energi, dan kesulitan bernafas bisa dikaitkan dengan
hipertensi pada bayi baru lahir dan bayi usia muda. Pada bayi yang lebih besar
dan anak, hipertensi bisa menyebabkan sakit kepala, iritabilitas tanpa penyebab
yang jelas, lesu, gagal tumbuh, pandangan kabur, mimisan, dan kelumpuhan wajah.
Komplikasi
Diagram
menggambarkan komplikasi utama tekanan darah tinggi persisten.
Hipertensi
adalah faktor risiko yang bisa dicegah yang terpenting bagi kematian prematur
di seluruh dunia. Hipertensi meningkatkan risiko penyakit jantung iskemik strokes, penyakit periferal vaskular, dan penyakit
kardiovaskular lain, termasuk gagal
jantung, aneurisma aorta, aterosklerosis difus, dan emboli paru. Hipertensi juga merupakan
faktor risiko terjadinya gangguan kognitif, demensia, dan penyakit ginjal kronik. Komplikasi lain di
antaranya:
Penyebab
Hipertensi primer
Hipertensi
primer (esensial) adalah jenis hipertensi yang paling umum, meliputi sebanyak
90–95% dari seluruh kasus hipertensi. Dalam hampir semua masyarakat
kontemporer, tekanan darah meningkat seiring penuaan dan risiko untuk menjadi
hipertensi di kemudian hari cukup tinggi. Hipertensi diakibatkan oleh interaksi
gen yang kompleks dan faktor lingkungan. Berbagai gen yang sering ditemukan
sedikit berpengaruh pada tekanan darah, sudah diidentifikasi demikian juga
beberapa gen yang jarang yang berpengaruh besar pada tekanan darah tetapi dasar
genetik dari hipertensi masih belum sepenuhnya dimengerti. Beberapa faktor
lingkungan mempengaruhi tekanan darah. Faktor gaya hidup yang menurunkan
tekanan darah di antaranya mengurangi asupan garam dalam makanan,
meningkatkan konsumsi buah-buahan dan produk rendah lemak (Pendekatan Diet
untuk Menghentikan Hipertensi (diet DASH)). Olah Raga, penurunan berat badan dan menurunkan asupan alkohol juga membantu menurunkan
tekanan darah. Kemungkinan peranan faktor lain seperti stres, konsumsi kafein,
dan defisiensi Vitamin Dkurang begitu jelas. Resistensi insulin, yang umum ditemukan pada
obesitas dan merupakan komponen dari sindrom
X
(atau sindrom metabolik), juga diduga ikut
berperan dalam mengakibatkan hipertensi. Studi terbaru juga memasukkan
kejadian-kejadian pada awal kehidupan (contohnya, berat lahir rendah, ibu merokok, dan
kurangnya air susu ibu) sebagai faktor risiko
bagi hipertensi esensial dewasa. Namun, mekanisme yang menghubungkan paparan
ini dengan hipertensi dewasa tetap tidak jelas.
Hipertensi sekunder
Hipertensi
sekunder terjadi akibat suatu penyebab yang diketahui. Penyakit ginjal adalah penyebab
sekunder tersering dari hipertensi. Hipertensi juga bisa disebabkan oleh
kondisi endokrin, seperti sindrom Cushing, hipertiroidisme, hipotiroidisme, akromegali, sindrom Conn atau hiperaldosteronisme, hiperparatiroidisme, dan feokromositoma. Penyebab lain dari
hipertensi sekunder di antaranya obesitas, henti nafas saat tidur, kehamilan, koarktasio aorta, konsumsi akar manis (licorice) yang berlebihan, serta
obat resep, obat herbal, dan obat-obat terlarang.
Patofisiologi
Bagi
kebanyakan orang dengan hipertensi esensial (primer), peningkatan resistensi
terhadap aliran darah (resistensi perifer total) bertanggung jawab atas
tekanan yang tinggi itu sementara curah jantung tetap normal. Ada bukti
bahwa beberapa orang muda yang menderita prahipertensi atau “hipertensi
perbatasan” memiliki curah jantung yang tinggi, denyut jantung meningkat, dan
resistensi perifer yang normal. Kondisi ini disebut sebagai hipertensi
perbatasan hiperkinetik .
Para penderita ini mengembangkan fitur yang khas dari hipertensi esensial tetap
di kemudian hari saat curah jantung menurun dan resistensi perifer meningkat
seiring bertambahnya usia. Masih diperdebatkan apakah pola ini biasa dialami
oleh semua orang yang pada akhirnya mengalami hipertensi. Peningkatan
resistensi perifer pada hipertensi tetap terutama disebabkan oleh penyempitan
struktur arteri dan arteriol kecil. Penurunan jumlah atau kepadatan pembuluh
kapiler juga bisa ikut berperan dalam resistensi perifer. Hipertensi juga
dikaitkan dengan penurunan kelenturan vena perifer, yang bisa meningkatkan
venous return (volume darah yang kembali ke jantung), meningkatkan preload jantung, dan akhirnya
menyebabkan disfungsi diastolik. Masih belum jelas apakah
peningkatan konstriksi aktif pembuluh darah memegang peranan dalam hipertensi
esensial.
Tekanan nadi (perbedaan antara tekanan
darah sistolik dan diastolik) sering meningkat pada orang lanjut usia dengan
hipertensi. Pada keadaan ini dapat terjadi tekanan sistolik sangat tinggi di
atas normal, tetapi tekanan diastolik mungkin normal atau rendah. Kondisi ini
disebut hipertensi sistolik
terisolasi.
Tekanan nadi yang tinggi pada orang lanjut usia dengan hipertensi atau
hipertensi sistolik terisolasi disebabkan karena peningkatan kekakuan arteri, yang biasanya menyertai
penuaan dan dapat diperberat oleh tekanan darah tinggi.
Banyak
mekanisme yang sudah diajukan sebagai penyebab peningkatan resistensi yang
ditemukan dalam sistem arteri pada hipertensi. Sebagian besar bukti menunjukkan
keterlibatan salah satu atau kedua penyebab beriku:
- Gangguan dalam penanganan garam
dan air pada ginjal, khususnya gangguan sistem
renin-angiotensin
intrarenal.
- Abnormalitas sistem saraf simpatis.
Mekanisme
tersebut tidak berdiri sendiri dan tampaknya keduanya ikut berperan sampai
batas tertentu dalam kebanyakan kasus hipertensi esensial. Juga diduga bahwa disfungsi endotel (gangguan fungsi dinding
pembuluh darah) dan peradangan vaskular juga ikut
berperan dalam meningkatkan resistensi perifer dan kerusakan pembuluh darah
pada hipertensi.
Diagnosis
|
Pemeriksaan yang dilakukan pada hipertensi
|
|
|
Sistem
|
Pemeriksaan
|
|
Lain-lain
|
|
Diagnosis
hipertensi ditegakkan saat pasien menderita tekanan darah tinggi secara
persisten. Biasanya, untuk menegakkan diagnosis diperlukan tiga kali pengukuran
sfigmomanometer yang berbeda dengan interval satu bulan. Pemeriksaan awal
pasien dengan hipertensi mencakup anamnesis dan pemeriksaan fisik lengkap. Dengan
tersedianya pemantauan tekanan darah ambulatori 24 jam dan alat pengukur
tekanan darah di rumah, demi menghindari kekeliruan diagnosis pada pasien
dengan hipertensi white coat (jenis hipertensi yang disebabkan oleh stres saat
bertemu dokter atau berada dalam suasana medis) telah dihasilkan suatu
perubahan protokol. Di Inggris, praktik terbaik yang dianjurkan saat ini adalah
dengan melakukan follow-up satu kali hasil pengukuran tekanan darah yang tinggi
di klinik dengan pengukuran ambulatori. Follow-up juga dapat dilakukan,
walaupun kurang ideal, dengan memonitor tekanan darah di rumah selama kurun
waktu tujuh hari.
Sekali
diagnosis telah ditegakkan, dokter berusaha mengindentifikasi penyebabnya
berdasarkan faktor risiko dan gejala lainnya, bila ada. Hipertensi sekunder lebih sering ditemukan
pada anak usia prapubertas dan sebagian besar kasus disebabkan oleh penyakit ginjal. Hipertensi primer atau
esensial lebih umum pada orang dewasa dan memiliki berbagai faktor risiko, di
antaranya obesitas dan riwayat hipertensi dalam keluarga. Pemeriksaan
laboratorium juga dapat dilakukan untuk mengidentifikasi kemungkinan penyebab
hipertensi sekunder, dan untuk menentukan apakah hipertensi menyebabkan
kerusakan pada jantung, mata, dan ginjal. Pemeriksaan tambahan untuk diabetes dan kadar kolesterol tinggi dilakukan karena kondisi
ini merupakan faktor risiko terjadinya penyakit
jantung
dan mungkin memerlukan penanganan. Kadar kreatinin darah diukur untuk menilai
adanya gangguan ginjal, yang mungkin merupakan penyebab atau akibat dari
hipertensi. Kadar kreatinin darah saja dapat memberikan dugaan yang terlalu
tinggi untuk laju filtrasi glomerulus. Panduan terkini
menganjurkan penggunaan rumus prediktif seperti formula Modification of Diet in
Renal Disease
(MDRD) untuk memperkirakan laju filtrasi glomerulus (eGFR). eGFR juga dapat
memberikan nilai awal/dasar fungsi ginjal yang dapat digunakan untuk memonitor
efek samping obat antihipertensi tertentu pada fungsi ginjal. Pemeriksaan protein pada sampel urin digunakan
juga sebagai indikator sekunder penyakit ginjal. Pemeriksaan Elektrokardiogram (EKG/ECG) dilakukan untuk
memeriksa tanda-tanda adanya beban yang berlebihan pada jantung akibat tekanan
darah tinggi. Pemeriksaan ini juga dapat menunjukkan adanya penebalan dinding
jantung (hipertrofi ventrikel kiri) atau tanda bahwa jantung
pernah mengalami gangguan ringan seperti serangan jantung tanpa gejala (silent
heart attack). Pemeriksaan foto Röntgen dada atau ekokardiogram juga dapat dilakukan untuk
melihat tanda pembesaran atau kerusakan pada jantung.
Pencegahan
Cukup
banyak orang yang mengalami hipertensi tetapi tidak menyadarinya. Diperlukan
tindakan yang mencakup seluruh populasi untuk mengurangi akibat tekanan darah
tinggi dan meminimalkan kebutuhan terapi dengan obat antihipertensi. Dianjurkan
perubahan gaya hidup untuk menurunkan tekanan darah, sebelum memulai terapi
obat. Pedoman British Hypertension Society 2004 mengajukan perubahan gaya hidup yang konsisten
dengan pedoman dari US National High BP Education Program tahun 2002 untuk
pencegahan utama bagi hipertensi sebagai berikut:
- Menjaga berat badan normal
(misalnya, indeks massa tubuh 20–25 kg/m2).
- Mengurangi asupan diet yang
mengandung natrium sampai <100 mmol/ hari (<6 g natrium klorida
atau <2,4 g natrium per hari). Banyak yang tidak menyadari bahwa makanan ringan dan juga mie instan banyak mengandung garam, demikian juga vetsin yang sebenarnya adalah monosodium glutamate,
karena sodium sebenarnya adalah nama lain dari natrium.
- Melakukan aktivitas fisik
aerobik secara teratur, misalnya jalan cepat (≥30 menit per hari, pada
hampir setiap hari dalam seminggu).
- Batasi konsumsi alkohol tidak
lebih dari 3 unit/hari pada laki-laki dan tidak lebih dari 2 unit/hari
pada perempuan.
- Mengonsumsi makanan yang kaya
buah dan sayuran (misalnya, sedikitnya lima porsi per hari).
Perubahan
gaya hidup yang efektif dapat menurunkan tekanan darah setara dengan
masing-masing obat antihipertensi. Kombinasi dari dua atau lebih perubahan gaya
hidup dapat memberikan hasil lebih baik.
Penatalaksanaan hipertensi
Penatalaksanaan
hipertensi dibedakan menjadi dua. Pada hipertensi ringan tanpa faktor resiko
atau kerusakan organ, penatalaksanaannya adalah dengan perubahan gaya hidup dan
memantau pasien selama 6-12 bulan. Pada hipertensi berat yang disertai dengan
faktor resiko dan kerusakan organ, penatalaksanaannya menggunakan terapi
farmakologi (obat).
Perubahan gaya hidup
Penanganan
tipe pertama untuk hipertensi identik dengan menganjurkan perubahan gaya hidup
yang bersifat pencegahan dan meliputi perubahan diet, olah raga, dan penurunan
berat badan. Semua perubahan ini telah terbukti menurunkan tekanan darah secara
bermakna pada orang dengan hipertensi. Jika hipertensi cukup tinggi dan
memerlukan pemberian obat segera, perubahan gaya hidup tetap disarankan.
Berbagai program diiklankan dapat mengurangi hipertensi dan dirancang untuk
mengurangi tekanan psikologis misalnya biofeedback, relaksasi, atau meditasi.
Namun, secara umum belum ada penelitian yang secara ilmiah mendukung
efektivitas program ini, karena penelitian yang ada masih berkualitas rendah.
Perubahan
asupan diet seperti diet rendah natrium sangat bermanfaat. Diet
rendah natrium jangka panjang (lebih dari 4 minggu) pada Kaukasia efektif menurunkan tekanan
darah, baik pada penderita hipertensi maupun pada orang dengan tekanan darah
normal. Selain itu, diet DASH, suatu diet kaya
kacang-kacangan, biji-bijian, ikan, unggas, buah, dan sayuran, yang
dipromosikan oleh National Heart, Lung, and
Blood Institute, menurunkan tekanan darah. Keistimewaan utama dari
program ini adalah membatasi asupan natrium, namun demikian diet ini
kaya [kalium]], magnesium, kalsium, dan protein.
Pengobatan
Saat
ini tersedia beberapa golongan obat yang secara keseluruhan disebut obat antihipertensi, untuk pengobatan
hipertensi. Risiko kardiovaskuler (termasuk risiko infark miokard dan stroke)
dan hasil pemeriksaan tekanan darah menjadi pertimbangan ketika meresepkan
obat. Jika pengobatan dimulai, Seventh Joint National Committee on High Blood
Pressure (JNC-7) dari National Heart, Lung, and Blood Institute menyarankan agar dokter memonitor respons
pasien terhadap pengobatan serta menilai apakah terjadi efek samping akibat
obat yang digunakan. Penurunan tekanan
darah
sebesar 5 mmHg dapat mengurangi risiko stroke sebesar 34% dan risiko penyakit jantung iskemik hingga 21%. Penurunan
tekanan darah juga dapat mengurangi kemungkinan demensia, gagal jantung, dan mortalitas yang disebabkan oleh penyakit kardiovaskuler. Pengobatan harus
ditujukan untuk mengurangi tekanan darah hingga kurang dari 140/90 mmHg
untuk sebagian besar orang, dan lebih rendah lagi untuk mereka yang memiliki
diabetes atau penyakit ginjal. Sejumlah praktisi medis menyarankan agar tekanan
darah dijaga pada level di bawah 120/80 mmHg. Jika tekanan darah yang
diharapkan tidak tercapai, maka diperlukan pengobatan lebih lanjut.
Pedoman
mengenai pilihan obat dan cara terbaik untuk menentukan pengobatan untuk
berbagai sub-kelompok pun berubah seiring berjalannya waktu dan berbeda-beda di
berbagai negara. Para ahli berbeda pendapat mengenai pengobatan terbaik untuk
hipertensi. Pedoman Kolaborasi Cochrane, World Health Organization, dan Amerika Serikat
mendukung diuretik golongan tiazid dosis rendah sebagai
terapi pilihan untuk lini pertama. Pedoman di Inggris menekankan penghambat kanal kalsium (calcium channel
blocker/CCB) untuk orang yang berusia di atas 55 tahun atau yang berdarah
Afrika atau Karibia. Pedoman ini menyarankan penghambat enzim konversi
angiotensin
(angiotensin-converting enzyme inhibitor/ACEI) yang merupakan obat pilihan yang
dianjurkan untuk pengobatan lini pertama pasien berusia muda.
Di Jepang, pengobatan dianggap wajar apabila dimulai dengan satu dari 6
golongan obat termasuk: CCB, ACEI/ARB, diuretik tiazid, penghambat reseptor beta, dan penghambat reseptor alfa. Di Kanada semua obat ini,
kecuali penghambat reseptor alfa, dianjurkan sebagai lini pertama yang dapat
digunakan.
Kombinasi obat
Banyak
orang memerlukan lebih dari satu obat untuk mengendalikan hipertensi mereka.
Pedoman JNC7 dan ESH-ESC menyarankan untuk memulai pengobatan dengan dua macam
obat apabila tekanan darah lebih dari 20 mmHg di atas target tekanan darah
sistolik atau lebih dari 10 mmHg di atas target diastolik. Kombinasi yang
lebih dipilih adalah penghambat sistem renin–angiotensin dengan antagonis
kalsium, atau penghambat sistem renin–angiotensin dengan diuretik.
Kombinasi yang dapat digunakan adalah sebagai berikut:
- Penghambat kanal kalsium dengan
diuretik
- Penghambat beta dengan diuretik
- Penghambat kanal kalsium
dihidropiridin dengan penghambat reseptor beta
- Penghambat kanal kalsium
dihidropiridin dengan verapamil atau diltiazem
Kombinasi
yang tidak boleh digunakan adalah sebagai berikut:
- Penghambat kanal kalsium
non-dihidropiridin (seperti verapamil atau diltiazem) dengan penghambat
reseptor beta
- Dua jenis penghambat sistem
renin–angiotensin (contohnya, penghambat enzim konversi angiotensin +
penghambat reseptor angiotensin)
- Penghambat sistem
renin–angiotensin dan penghambat reseptor beta
- Penghambat reseptor beta dan
obat anti-adrenergik.
Hindari
kombinasi penghambat ACE atau antagonis reseptor angiotensin II, diuretik, dan OAINS (termasuk penghambat COX-2
selektif dan obat bebas tanpa resep seperti ibuprofen) jika tidak mendesak,
karena tingginya risiko gagal ginjal akut. Istilah awam dari kombinasi ini
adalah "triple whammy" dalam literatur kesehatan Australia. Tersedia
tablet yang mengandung kombinasi tetap dari dua golongan obat tersebut.
Meskipun nyaman dikonsumsi, obat-obatan tersebut sebaiknya tidak diberikan
untuk pasien yang biasa menjalani terapi dengan komponen obat tunggal.
Pasien usia lanjut
Pengobatan
hipertensi pada hipertensi sedang hingga berat menurunkan tingkat kematian dan
efek samping kardiovaskuler pada pasien usia 60 tahun ke atas. Pada pasien yang
berusia lebih dari 80 tahun pengobatan tampaknya tidak mengurangi tingkat
kematian secara bermakna namun mengurangi risiko penyakit jantung. Target
tekanan darah yang direkomendasikan adalah kurang dari 140/90 mm Hg dengan
diuretik tiazid sebagai obat pilihan di
Amerika Serikat. Pada versi revisi pedoman Inggris, penghambat kanal kalsium merupakan obat pilihan
dengan target hasil pemeriksaan secara klinis kurang dari 150/90 mmHg,
atau kurang dari 145/85 mmHg pada pemantauan dengan tekanan darah
ambulatori atau di rumah.
Hipertensi resisten
Hipertensi
resisten adalah hipertensi yang terus berada di atas target tekanan darah,
meskipun telah digunakan tiga obat antihipertensi sekaligus dari golongan obat
antihipertensi yang berbeda. Pedoman pengobatan hipertensi resisten telah
dipublikasikan di Inggris and the US.
Kemungkinan terkena penyakit ini
Per
tahun 2000, hampir satu miliar orang atau kira-kira 26% dari populasi dewasa
dunia mengalami hipertensi. Ini biasa terjadi baik di negara maju (333 juta)
maupun negara berkembang (639 juta). Namun, angka ini sangat bervariasi di
beberapa wilayah dengan angka terendah 3,4% (laki-laki) dan 6,8% (perempuan) di
pedalaman India dan tertinggi 68,9% (laki-laki) dan 72,5% (perempuan) di
Polandia.
Pada
1995 diperkirakan 43 juta orang di Amerika Serikat mengalami hipertensi atau
menjalani terapi antihipertensi. Angka ini mewakili hampir 24% dari populasi
dewasa di AS. Jumlah hipertensi di Amerika Serikat meningkat dan mencapai 29%
pada 2004. Per tahun 2006 hipertensi menyerang 76 juta orang dewasa di Amerika
Serikat (34% dari populasi) dan kasus terbanyak terjadi pada orang dewasa ras
Afrika-Amerika yakni sebesar 44%. Penyakit ini lebih banyak dialami oleh
penduduk asli Amerika dan lebih sedikit dialami oleh kelompok kulit putih dan ras Meksiko-Amerika. Jumlah ini meningkat
seiring bertambahnya usia, dan lebih banyak ditemukan pada Amerika Serikat bagian
tenggara.
Hipertensi lebih banyak ditemukan pada laki-laki daripada perempuan (meskipun selisih
tersebut cenderung menurun pada perempuan menopause) dan pada kelompok dengan status sosioekonomi rendah.
Anak
Jumlah
tekanan darah tinggi pada anak semakin meningkat. Sebagian besar hipertensi
pada anak, terutama pada usia pra-remaja, merupakan hipertensi sekunder akibat
penyakit yang mendasarinya. Selain obesitas, penyakit ginjal menjadi penyebab
hipertensi yang tersering (60–70%) pada anak. Remaja biasanya mengalami
hipertensi primer atau esensial (tidak diketahui penyebabnya), yakni mencapai
85–95% dari seluruh kasus.
Sejarah
Gambar
pembuluh vena dari Exercitatio anatomica de motu cordis et sanguinis in
animalibus karya Harvey (“Suatu Praktik Anatomi mengenai Pergerakan Jantung
dan Darah pada Makhluk Hidup”)
Pemikiran
modern tentang sistem kardiovaskuler dimulai dengan karya dokter William Harvey (1578–1657). Harvey
menjelaskan tentang sirkulasi darah di dalam bukunya yang berjudul De otu
ordis ("Pergerakan Jantung dan Darah"). Seorang pendeta Inggris Stephen Hales membuat publikasi pertama
mengenai pengukuran tekanan darah pada tahun 1733. Deskripsi hipertensi sebagai
suatu penyakit datang dari, di antaranya, Thomas
Young
pada tahun 1808 dan Richard Bright pada tahun 1836. Laporan
pertama tentang tekanan darah yang meningkat pada seseorang tanpa bukti adanya
penyakit ginjal dibuat oleh Frederick Akbar Mahomed (1849–1884). Namun,
hipertensi sebagai sebuah entitas klinis baru muncul pada 1896 dengan
ditemukannya sfigmomanometer menggunakan manset oleh Scipione Riva-Rocci pada 1896. Dengan penemuan
ini, pengukuran tekanan darah dapat dilakukan di klinik. Pada 1905, Nikolai Korotkoff mengembangkan teknik
tersebut dengan mendeskripsikan bunyi Korotkoff yang terdengar saat arteri
diauskultasi dengan stetoskop pada saat manset sfigmomanometer dikempiskan.
Menurut sejarah, pengobatan untuk apa yang disebut dengan "penyakit nadi
keras (hard pulse disease)" terdiri dari penurunan jumlah darah melalui pengeluaran darah atau penggunaan lintah. Yellow Emperor dari Cina, Cornelius Celsus, Galen, dan Hippocrates menyarankan pengeluaran
darah. Pada abad ke-19 dan ke-20,
sebelum adanya terapi farmakologi yang efektif untuk hipertensi, digunakan tiga
modalitas pengobatan, semuanya dengan berbagai efek samping. Modalitas ini
mencakup pembatasan ketat konsumsi natrium (contohnya, diet nasi), simpatektomi (ablasi bedah pada bagian sistem saraf simpatis), dan terapi pirogen
(penyuntikan zat yang menyebabkan demam, secara tidak langsung menurunkan
tekanan darah). Zat kimia pertama untuk hipertensi, natrium tiosianat, digunakan pada 1900 namun
memiliki banyak efek samping dan kurang disukai. Beberapa jenis obat lainnya
dikembangkan setelah Perang Dunia Kedua. Yang paling disukai dan
cukup efektif adalah tetrametilamonium klorida dan turunannya heksametonium, hidralazin, dan reserpin (turunan dari tumbuhan
obat Rauwolfia serpentina). Terobosan besar dicapai
dengan penemuan obat oral pertama yang dapat ditoleransi dengan baik. Yang
pertama klorotiazid, diuretik tiazid pertama, yang dikembangkan
dari antibiotik sulfanilamid dan mulai tersedia pada
1958. Obat ini meningkatkan ekskresi garam dan mencegah akumulasi cairan. Uji klinik acak terkontrol yang disponsori oleh Veterans Administration membandingkan hidroklorotiazid plus reserpin plus
hidralazin versus plasebo. Penelitian ini dihentikan lebih awal karena pada
kelompok tekanan darah tinggi yang tidak mendapatkan pengobatan terjadi lebih
banyak komplikasi dibandingkan pasien yang diobati, dan dirasakan tidak etis
untuk tidak memberikan pengobatan kepada mereka. Penelitian tersebut
dilanjutkan pada kelompok pasien dengan tekanan darah yang lebih rendah dan
menunjukkan bahwa bahkan pada pasien dengan hipertensi ringan, pengobatan dapat
mengurangi hampir lebih dari setengah risiko kematian akibat penyakit
kardiovaskuler. Pada 1975, Lasker Special Public Health Award diberikan kepada tim yang
telah mengembangkan klorotiazid. Hasil penelitian ini mendorong kampanye
kesehatan masyarakat untuk meningkatkan kesadaran terhadap hipertensi dan
mempromosikan pengukuran dan pengobatan tekanan darah tinggi. Pengukuran ini
tampaknya telah memegang sebagian peranan dalam penurunan angka stroke dan
penyakit jantung iskemik sebesar 50% antara 1972 dan 1994.
Masyarakat dan budaya
Kesadaran
Grafik
menunjukkan perbandingan prevalensi kesadaran, pengobatan dan pengendalian
hipertensi antara empat penelitian NHANES
World Health Organization telah mengidentifikasi
hipertensi, atau tekanan darah tinggi, sebagai penyebab utama mortalitas kardiovaskuler. World Hypertension League (WHL), sebuah organisasi yang
menaungi 85 organisasi masyarakat dan liga hipertensi nasional, menyatakan
bahwa lebih dari 50% orang yang terkena hipertensi di seluruh dunia tidak
menyadari kondisi mereka.[94] Untuk mengatasi masalah
ini, WHL merintis suatu kampanye hipertensi di seluruh dunia pada 2005 dan
menetapkan tanggal 17 Mei sebagai Hari Hipertensi Dunia (WHD). Selama tiga tahun terakhir, semakin banyak
organisasi masyarakat dari berbagai negara yang terlibat dalam WHD dan mulai
melakukan kegiatan inovatif untuk menyampaikan pesan mereka kepada masyarakat.
Pada 2007, tercatat ada 47 negara anggota WHL yang berpartisipasi. Selama pekan
WHD, semua negara ini bermitra dengan pemerintah setempat, organisasi profesi,
organisasi non-pemerintah, dan industri swasta untuk mempromosikan kesadaran mengenai
hipertensi tersebut melalui beberapa media dan kampanye masyarakat.
Dengan menggunakan media massa seperti Internet dan televisi, pesan tersebut menjangkau
lebih dari 250 juta orang. Dengan semakin meningkatnya momentum ini dari tahun
ke tahun, WHL yakin bahwa hampir semua dari sekitar 1,5 miliar orang yang
terkena tekanan darah tinggi dapat dijangkau.
Segi ekonomi
Tekanan
darah tinggi adalah masalah medis kronis tersering yang membawa orang berobat
ke tempat pelayanan kesehatan primer di Amerika Serikat. American Heart
Association memperkirakan biaya kesehatan langsung dan tidak langsung dari
tekanan darah tinggi sebesar $76,6 miliar pada 2010. Di Amerika Serikat, 80%
orang yang mengalami hipertensi menyadari kondisi mereka dan 71% mengonsumsi
obat antihipertensi. Namun, hanya 48% orang yang mengetahui bahwa mereka
mengalami hipertensi, melakukan pengendalian hipertensi secara adekuat.
Diagnosis, pengobatan, atau kontrol tekanan darah tinggi yang tidak cukup dapat
mengganggu tata laksana hipertensi. Penyedia layanan kesehatan menghadapi banyak kendala
dalam mencapai pengendalian tekanan darah, termasuk penolakan terhadap
penggunaan beberapa obat untuk mencapai target tekanan darah yang diharapkan.
Pasien juga mengalami kesulitan mematuhi jadwal minum obat dan mengubah gaya
hidup. Meskipun demikian, target tekanan darah sangat mungkin dapat dicapai.
Menurunkan tekanan darah berarti mengurangi biaya untuk perawatan medis yang
lebih lanjut.
Kesadaran
Grafik
menunjukkan perbandingan prevalensi kesadaran, pengobatan dan pengendalian
hipertensi antara empat penelitian NHANES[82]
World Health Organization telah mengidentifikasi
hipertensi, atau tekanan darah tinggi, sebagai penyebab utama mortalitas kardiovaskuler. World Hypertension League (WHL), sebuah organisasi yang
menaungi 85 organisasi masyarakat dan liga hipertensi nasional, menyatakan
bahwa lebih dari 50% orang yang terkena hipertensi di seluruh dunia tidak
menyadari kondisi mereka.[94] Untuk mengatasi masalah
ini, WHL merintis suatu kampanye hipertensi di seluruh dunia pada 2005 dan
menetapkan tanggal 17 Mei sebagai Hari Hipertensi Dunia (WHD). Selama tiga tahun terakhir, semakin banyak
organisasi masyarakat dari berbagai negara yang terlibat dalam WHD dan mulai
melakukan kegiatan inovatif untuk menyampaikan pesan mereka kepada masyarakat.
Pada 2007, tercatat ada 47 negara anggota WHL yang berpartisipasi. Selama pekan
WHD, semua negara ini bermitra dengan pemerintah setempat, organisasi profesi,
organisasi non-pemerintah, dan industri swasta untuk mempromosikan kesadaran
mengenai hipertensi tersebut melalui beberapa media dan kampanye masyarakat.
Dengan menggunakan media massa seperti Internet dan televisi, pesan tersebut menjangkau
lebih dari 250 juta orang. Dengan semakin meningkatnya momentum ini dari tahun
ke tahun, WHL yakin bahwa hampir semua dari sekitar 1,5 miliar orang yang
terkena tekanan darah tinggi dapat dijangkau.[95]
Referensi
- Carretero OA, Oparil S (January
2000). "Essential
hypertension. Part I: Definition and etiology". Circulation 101 (3): 329–35. doi:10.1161/01.CIR.101.3.329. PMID 10645931.
- Chobanian AV, Bakris GL, Black
HR, et al. (December 2003). "Seventh report
of the Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation, and
Treatment of High Blood Pressure".
Hypertension 42 (6): 1206–52. doi:10.1161/01.HYP.0000107251.49515.c2. PMID 14656957.
- National Clinical Guidance Centre
(August 2011). "7 Diagnosis of
Hypertension, 7.5 Link from evidence to recommendations". Hypertension (NICE CG 127). National Institute for
Health and Clinical Excellence.
hlm. 102. Diakses 2011-12-22.
- Mancia G, De Backer G,
Dominiczak A, et al. (September 2007). "2007 ESH-ESC Practice
Guidelines for the Management of Arterial Hypertension: ESH-ESC Task Force
on the Management of Arterial Hypertension". J. Hypertens. 25
(9): 1751–62. doi:10.1097/HJH.0b013e3282f0580f. PMID 17762635.
- Williams B, Poulter NR, Brown
MJ, et al. (March 2004). "Guidelines for management of
hypertension: report of the fourth working party of the British
Hypertension Society, 2004-BHS IV". J Hum Hypertens 18
(3): 139–85. doi:10.1038/sj.jhh.1001683. PMID 14973512.
- Dionne JM, Abitbol CL, Flynn JT
(January 2012). "Hypertension in infancy: diagnosis, management and
outcome". Pediatr. Nephrol. 27 (1): 17–32. doi:10.1007/s00467-010-1755-z. PMID 21258818.
- ^ Din-Dzietham R, Liu Y, Bielo MV, Shamsa F (September
2007). "High blood pressure trends in children and adolescents in
national surveys, 1963 to 2002". Circulation 116 (13):
1488–96. doi:10.1161/CIRCULATIONAHA.106.683243. PMID 17846287.
- "The fourth report on the
diagnosis, evaluation, and treatment of high blood pressure in children
and adolescents". Pediatrics 114 (2 Suppl 4th Report):
555–76. August 2004. PMID 15286277.
- Fisher ND, Williams GH (2005).
"Hypertensive vascular disease". In Kasper DL, Braunwald E,
Fauci AS, et al.. Harrison's Principles of Internal Medicine
(ed. 16th). New York, NY: McGraw-Hill. hlm. 1463–81. ISBN 0-07-139140-1.
- Wong T, Mitchell P (February
2007). "The eye in hypertension". Lancet 369
(9559): 425–35. doi:10.1016/S0140-6736(07)60198-6. PMID 17276782.
- O'Brien, Eoin; Beevers, D. G.;
Lip, Gregory Y. H. (2007). ABC of hypertension. London: BMJ Books. ISBN 1-4051-3061-X.
- Papadopoulos DP, Mourouzis I,
Thomopoulos C, Makris T, Papademetriou V (December 2010).
"Hypertension crisis". Blood Press. 19 (6):
328–36. doi:10.3109/08037051.2010.488052. PMID 20504242.
- ^ a b c d e Marik PE, Varon J (June 2007). "Hypertensive
crises: challenges and management".
Chest 131 (6): 1949–62. doi:10.1378/chest.06-2490. PMID 17565029.
- Gibson, Paul (July 30, 2009). "Hypertension and
Pregnancy". eMedicine Obstetrics and
Gynecology. Medscape. Diakses 2009-06-16.
- Rodriguez-Cruz, Edwin;
Ettinger, Leigh M (April 6, 2010). "Hypertension". eMedicine Pediatrics: Cardiac Disease and Critical
Care Medicine. Medscape. Diakses 2009-06-16.
- "Global health
risks: mortality and burden of disease attributable to selected major
risks.". World Health Organization.
2009. Diakses 10 February 2012.
- Lewington S, Clarke R,
Qizilbash N, Peto R, Collins R (December 2002). "Age-specific
relevance of usual blood pressure to vascular mortality: a meta-analysis
of individual data for one million adults in 61 prospective studies".
Lancet 360 (9349): 1903–13. doi:10.1016/S0140-6736(02)11911-8. PMID 12493255.
- Singer DR, Kite A (June 2008).
"Management of hypertension in peripheral arterial disease: does the
choice of drugs matter?". European Journal of Vascular and
Endovascular Surgery 35 (6): 701–8. doi:10.1016/j.ejvs.2008.01.007. PMID 18375152.
- Zeng C, Villar VA, Yu P, Zhou
L, Jose PA (April 2009). "Reactive oxygen species and dopamine
receptor function in essential hypertension". Clinical and
Experimental Hypertension 31 (2): 156–78. doi:10.1080/10641960802621283. PMID 19330604.
- Vasan, RS; Beiser, A, Seshadri,
S, Larson, MG, Kannel, WB, D'Agostino, RB, Levy, D (2002 Feb 27).
"Residual lifetime risk for developing hypertension in middle-aged
women and men: The Framingham Heart Study.". JAMA: the journal of
the American Medical Association 287 (8): 1003–10. PMID 11866648.
- The International Consortium
for Blood Pressure Genome-Wide Association Studies. Genetic variants in
novel pathways influence blood pressure and cardiovascular disease risk.
Nature 2011; 478: 103–109 doi:10.1038/nature10405
- Lifton, RP; Gharavi, AG,
Geller, DS (2001 Feb 23). "Molecular mechanisms of human
hypertension.". Cell 104 (4): 545–56. PMID 11239411.
- He, FJ; MacGregor, GA (2009
Jun). "A comprehensive review on salt and health and current
experience of worldwide salt reduction programmes.". Journal of
human hypertension 23 (6): 363–84. PMID 19110538.
- Dickinson HO, Mason JM, Nicolson
DJ, Campbell F, Beyer FR, Cook JV, Williams B, Ford GA. Lifestyle
interventions to reduce raised blood pressure: a systematic review of
randomized controlled trials. J Hypertens. 2006;24:215-33.
- Haslam DW, James WP (2005).
"Obesity". Lancet 366 (9492): 1197–209. doi:10.1016/S0140-6736(05)67483-1. PMID 16198769.
- Whelton PK, He J, Appel LJ,
Cutler JA, Havas S, Kotchen TA et al. (2002). "Primary
prevention of hypertension: Clinical and public health advisory from The
National High Blood Pressure Education Program". JAMA 288
(15): 1882–8. doi:10.1001/jama.288.15.1882. PMID 12377087.
- Mesas AE, Leon-Muñoz LM,
Rodriguez-Artalejo F, Lopez-Garcia E. The effect of coffee on blood
pressure and cardiovascular disease in hypertensive individuals: A
systematic review and meta-analysis. Am J Clin Nutr. 2011;94:1113–26.
- Vaidya A, Forman JP (November
2010). "Vitamin D and hypertension: current evidence and future
directions". Hypertension 56 (5): 774–9. doi:10.1161/HYPERTENSIONAHA.109.140160. PMID 20937970.
- Sorof J, Daniels S (October
2002). "Obesity
hypertension in children: a problem of epidemic proportions". Hypertension 40 (4): 441–447. doi:10.1161/01.HYP.0000032940.33466.12. PMID 12364344. Diakses 2009-06-03.
- Lawlor, DA; Smith, GD (2005
May). "Early life determinants of adult blood pressure.". Current
opinion in nephrology and hypertension 14 (3): 259–64. PMID 15821420.
- Dluhy RG, Williams GH.
Endocrine hypertension. In: Wilson JD, Foster DW, Kronenberg HM, eds.
Williams Textbook of Endocrinology. 9th ed. Philadelphia, Pa: WB Saunders;
1998:729-49.
- Grossman E, Messerli FH
(January 2012). "Drug-induced Hypertension: An Unappreciated Cause of
Secondary Hypertension". Am. J. Med. 125 (1): 14–22. doi:10.1016/j.amjmed.2011.05.024. PMID 22195528.
- Conway J (April 1984).
"Hemodynamic aspects of essential hypertension in humans". Physiol.
Rev. 64 (2): 617–60. PMID 6369352.
- ^ a b Palatini P, Julius S (June 2009). "The role of
cardiac autonomic function in hypertension and cardiovascular
disease". Curr. Hypertens. Rep. 11 (3): 199–205. PMID 19442329.
- Andersson OK, Lingman M,
Himmelmann A, Sivertsson R, Widgren BR (2004). "Prediction of future
hypertension by casual blood pressure or invasive hemodynamics? A 30-year
follow-up study". Blood Press. 13 (6): 350–4. PMID 15771219.
- Folkow B (April 1982).
"Physiological aspects of primary hypertension". Physiol. Rev.
62 (2): 347–504. PMID 6461865.
- ^ Struijker Boudier HA, le Noble JL, Messing MW,
Huijberts MS, le Noble FA, van Essen H (December 1992). "The
microcirculation and hypertension". J Hypertens Suppl 10
(7): S147–56. PMID 1291649.
- Safar ME, London GM (August
1987). "Arterial and venous compliance in sustained essential
hypertension". Hypertension 10 (2): 133–9. PMID 3301662.
- Schiffrin EL (February 1992).
"Reactivity of small blood vessels in hypertension: relation with
structural changes. State of the art lecture". Hypertension 19
(2 Suppl): II1–9. PMID 1735561.
- Chobanian AV (August 2007).
"Clinical practice. Isolated systolic hypertension in the
elderly". N. Engl. J. Med. 357 (8): 789–96. doi:10.1056/NEJMcp071137. PMID 17715411.
- Zieman SJ, Melenovsky V, Kass
DA (May 2005). "Mechanisms, pathophysiology, and therapy of arterial
stiffness". Arterioscler. Thromb. Vasc. Biol. 25 (5):
932–43. doi:10.1161/01.ATV.0000160548.78317.29. PMID 15731494.
- Navar LG (December 2010). "Counterpoint:
Activation of the intrarenal renin-angiotensin system is the dominant
contributor to systemic hypertension". J. Appl. Physiol. 109 (6): 1998–2000;
discussion 2015. doi:10.1152/japplphysiol.00182.2010a. PMC 3006411. PMID 21148349.
- Esler M, Lambert E, Schlaich M
(December 2010). "Point: Chronic activation of the sympathetic
nervous system is the dominant contributor to systemic hypertension".
J. Appl. Physiol. 109 (6): 1996–8; discussion 2016. doi:10.1152/japplphysiol.00182.2010. PMID 20185633.
- Versari D, Daghini E, Virdis A,
Ghiadoni L, Taddei S (June 2009). "Endothelium-dependent
contractions and endothelial dysfunction in human hypertension". Br. J. Pharmacol. 157 (4): 527–36. doi:10.1111/j.1476-5381.2009.00240.x. PMC 2707964. PMID 19630832.
- Marchesi C, Paradis P,
Schiffrin EL (July 2008). "Role of the renin-angiotensin system in
vascular inflammation". Trends Pharmacol. Sci. 29 (7):
367–74. doi:10.1016/j.tips.2008.05.003. PMID 18579222.
- Loscalzo, Joseph; Fauci,
Anthony S.; Braunwald, Eugene; Dennis L. Kasper; Hauser, Stephen L; Longo,
Dan L. (2008). Harrison's principles of internal medicine.
McGraw-Hill Medical. ISBN 0-07-147691-1.
- Padwal RS, Hemmelgarn BR, Khan
NA et al. (May 2009). "The 2009
Canadian Hypertension Education Program recommendations for the management
of hypertension: Part 1 – blood pressure measurement, diagnosis and
assessment of risk".
Canadian Journal of Cardiology 25 (5): 279–86. doi:10.1016/S0828-282X(09)70491-X. PMC 2707176. PMID 19417858.
- Padwal RJ, Hemmelgarn BR, Khan
NA et al. (June 2008). "The 2008
Canadian Hypertension Education Program recommendations for the management
of hypertension: Part 1 – blood pressure measurement, diagnosis and
assessment of risk".
Canadian Journal of Cardiology 24 (6): 455–63. doi:10.1016/S0828-282X(08)70619-6. PMC 2643189. PMID 18548142.
- Padwal RS, Hemmelgarn BR,
McAlister FA et al. (May 2007). "The 2007
Canadian Hypertension Education Program recommendations for the management
of hypertension: Part 1 – blood pressure measurement, diagnosis and
assessment of risk".
Canadian Journal of Cardiology 23 (7): 529–38. doi:10.1016/S0828-282X(07)70797-3. PMC 2650756. PMID 17534459.
- ^ Hemmelgarn BR, McAlister FA, Grover S et al. (May
2006). "The 2006
Canadian Hypertension Education Program recommendations for the management
of hypertension: Part I – Blood pressure measurement, diagnosis and
assessment of risk".
Canadian Journal of Cardiology 22 (7): 573–81. doi:10.1016/S0828-282X(06)70279-3. PMC 2560864. PMID 16755312.
- Hemmelgarn BR, McAllister FA,
Myers MG et al. (June 2005). "The 2005 Canadian Hypertension
Education Program recommendations for the management of hypertension: part
1- blood pressure measurement, diagnosis and assessment of risk". Canadian
Journal of Cardiology 21 (8): 645–56. PMID 16003448.
- North of England Hypertension
Guideline Development Group (1 August 2004). "Frequency of
measurements". Essential
hypertension (NICE CG18). National Institute for
Health and Clinical Excellence.
hlm. 53. Diakses 2011-12-22.
- ^ Luma GB, Spiotta RT (may 2006). "Hypertension in
children and adolescents". Am Fam Physician 73 (9):
1558–68. PMID 16719248.
- Chobanian AV, Bakris GL, Black
HR, et al. (December 2003). "Seventh report
of the Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation, and
Treatment of High Blood Pressure".
Hypertension 42 (6): 1206–52. doi:10.1161/01.HYP.0000107251.49515.c2. PMID 14656957.
- Williams, B; Poulter, NR,
Brown, MJ, Davis, M, McInnes, GT, Potter, JF, Sever, PS, McG Thom, S,
British Hypertension, Society (2004 Mar). "Guidelines for management
of hypertension: report of the fourth working party of the British
Hypertension Society, 2004-BHS IV.". Journal of human hypertension
18 (3): 139–85. PMID 14973512.
- Whelton PK et al.
(2002). "Primary prevention of hypertension. Clinical and public
health advisory from the National High Blood Pressure Education
Program". JAMA 288 (15): 1882–1888. doi:10.1001/jama.288.15.1882. PMID 12377087.
- Weber MA, ed. Hypertension
Medicine.Totowa, NJ: Humana Press;2001:42,42
- "NPS Prescribing
Practice Review 52: Treating hypertension". NPS Medicines Wise. September 1, 2010. Diakses
November 5, 2010.
- Siebenhofer, A; Jeitler, K,
Berghold, A, Waltering, A, Hemkens, LG, Semlitsch, T, Pachler, C,
Strametz, R, Horvath, K (2011-09-07). "Long-term effects of
weight-reducing diets in hypertensive patients". In Siebenhofer,
Andrea. Cochrane database of systematic reviews (Online) 9:
CD008274. doi:10.1002/14651858.CD008274.pub2. PMID 21901719.
- Blumenthal JA, Babyak MA,
Hinderliter A et al. (January 2010). "Effects of the DASH diet alone
and in combination with exercise and weight loss on blood pressure and
cardiovascular biomarkers in men and women with high blood pressure: the
ENCORE study". Arch. Intern. Med. 170 (2): 126–35. doi:10.1001/archinternmed.2009.470. PMID 20101007.
- Greenhalgh J, Dickson R, Dundar
Y (October 2009). "The effects of biofeedback for the treatment of
essential hypertension: a systematic review". Health Technol
Assess 13 (46): 1–104. doi:10.3310/hta13460
(tidak aktif 2010-08-21). PMID 19822104.
- Rainforth MV, Schneider RH,
Nidich SI, Gaylord-King C, Salerno JW, Anderson JW (December 2007). "Stress Reduction
Programs in Patients with Elevated Blood Pressure: A Systematic Review and
Meta-analysis". Curr.
Hypertens. Rep. 9 (6): 520–8. doi:10.1007/s11906-007-0094-3. PMC 2268875. PMID 18350109.
- Ospina MB, Bond K, Karkhaneh M
et al. (June 2007). "Meditation practices for health: state of the
research". Evid Rep Technol Assess (Full Rep) (155): 1–263. PMID 17764203.
- He, FJ; MacGregor, GA (2004). "Effect of
longer-term modest salt reduction on blood pressure.". Cochrane database of systematic reviews (Online)
(3): CD004937. PMID 15266549.
- "Your Guide To
Lowering Your Blood Pressure With DASH" (PDF). Diakses 2009-06-08.
- Nelson, Mark. "Drug treatment
of elevated blood pressure".
Australian Prescriber (33): 108–112. Diakses August 11, 2010.
- Law M, Wald N, Morris J (2003).
"Lowering blood
pressure to prevent myocardial infarction and stroke: a new preventive
strategy". Health Technol Assess 7
(31): 1–94. PMID 14604498.
- Shaw, Gina (2009-03-07). "Prehypertension:
Early-stage High Blood Pressure".
WebMD. Diakses 2009-07-03.
- Eni C. Okonofua; Kit N.
Simpson; Ammar Jesri; Shakaib U. Rehman; Valerie L. Durkalski; Brent M.
Egan (January 23, 2006). "Therapeutic
Inertia Is an Impediment to Achieving the Healthy People 2010 Blood
Pressure Control Goals".
Hypertension 47 (2006;47:345): 345–51. doi:10.1161/01.HYP.0000200702.76436.4b. PMID 16432045. Diakses 2009-11-22.
- Klarenbach, SW; McAlister, FA,
Johansen, H, Tu, K, Hazel, M, Walker, R, Zarnke, KB, Campbell, NR,
Canadian Hypertension Education, Program (2010 May). "Identification
of factors driving differences in cost effectiveness of first-line
pharmacological therapy for uncomplicated hypertension.". The
Canadian journal of cardiology 26 (5): e158–63. PMID 20485695.
- Wright JM, Musini VM (2009).
"First-line drugs for hypertension". In Wright, James M. Cochrane
Database Syst Rev (3): CD001841.



